Bagai Melarung Tenun di Laut Alor

Kompas.com - 27/01/2014, 09:38 WIB
Merdi Sihombing /Model berpose di bawah laut Alor

Kompas.com - Desainer Merdi Sihombing ”melarung” tenun di Laut Alor sebagai bentuk penghormatan kepada alam. Busana-busana berbahan tenun alor rancangan Merdi menyimpan ingatan magis tentang taman-taman terumbu karang yang permai di dasar laut.

Matahari masih bersinar lembut ketika rombongan tiba di dermaga Kadelang, Kalabahi, Pulau Alor. Kepulauan Alor yang terletak di Nusa Tenggara Timur termasuk salah satu kepulauan terluar Indonesia. Alor tak hanya menyimpan keindahan alam bawah laut, namun juga keelokan berbagai tenun ikat garapan tangan-tangan penduduknya yang sederhana.

Pagi itu, permukaan air laut bagai lembaran kristal lentur yang digoyang-goyangkan ombak dengan lembut. Lengkungan pelangi muncul tipis di kejauhan. Kapal Alor Dive yang dipimpin Donovan Whitford, operator penyelaman dari Kupang, melaju perlahan menuju Selat Sebanjar dengan kecepatan 7,5 knot. Hari itu adalah hari kedua agenda pemotretan bawah laut untuk busana-busana tenun rancangan Merdi.

Pemotretan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Swarna Festival di Pulau Alor yang diselenggarakan Direktorat Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, November 2013 lalu. Merdi punya alasan tersendiri menggelar pemotretan bawah laut untuk busana-busana rancangannya.

”Busana-busana dari tenun alor ini merepresentasikan berbagai dimensi dari Pulau Alor sendiri, terutama dari kekayaan lautnya,” ujar Merdi.

Pewarna dari teripang

Sejak lebih dari setahun sebelumnya, Merdi bekerja sama dengan sekelompok petenun di Kampung Hula, Alor Besar, yang dipimpin oleh Sariat Libana (42). Perempuan petenun asli Alor ini menemukan sumber pewarnaan alami dari teripang, hewan invertebrata timun laut (sea cucumber) yang juga kerap dikonsumsi manusia sebagai sumber pangan kaya protein.

Dari air rebusan berbagai jenis teripang tersebut, Sariat atau biasa disapa Mama Sariat memformulasikan berbagai pewarna alami, mulai dari hitam, oranye, kuning, kemerahan, sampai keunguan. ”Saya menganggapnya (Mama Sariat) profesor pencelupan warna alami,” kata Merdi.

Warna-warna dari teripang tersebut melengkapi koleksi warna temuan Mama Sariat sebelumnya, yakni ramuan warna-warna dari aneka tumbuh-tumbuhan di Alor. Pewarna alamiah itu digunakan untuk mewarnai benang-benang yang telah diikat untuk membentuk pola motif tenun yang diinginkan.

”Busana tenun ini menyimpan unsur-unsur laut. Karena itu, konsep pemotretan bawah laut ini digagas. Tak hanya aspek pewarnaan, namun juga motif,” ungkap Merdi.

Salah satu busana tenun yang dikenakan model Eva (36), misalnya, berupa atasan blus berwarna merah kecoklatan bermotif ikan di bagian dada. Karakter tenun dari benang yang dipintal sendiri memang cukup tebal dan berat. Untuk membuatnya lebih nyaman dikenakan, Merdi memberi lapisan dalam dari kain berbahan campuran katun dan viscose.

Bagi Merdi, desainer yang mendedikasikan diri pada eksplorasi kain Indonesia ini, pemotretan bawah laut tersebut bagai peragaan busana di dalam laut. Terumbu-terumbu karang yang indah, habitat dari teripang, menjadi saksinya. Tak ada entakan musik yang membahana seperti dalam peragaan busana, hanya kesunyian magis bawah laut yang khidmat. Pemotretan pun seolah bagai upacara melarung tenun di laut sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan seisinya.

”Tenun ini bicara banyak hal. Tak hanya soal keindahan alam bawah laut, namun juga pergulatan para petenunnya yang berusaha mandiri dan bersinergi dengan alam. Kembali kepada alam menjadi salah satu jalan untuk merevitalisasi tenun alor,” tutur Merdi.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLusia Kus Anna
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X