Kompas.com - 12/04/2014, 11:57 WIB
Ilustrasi pola asuh orangtua. shutterstockIlustrasi pola asuh orangtua.
Penulis Wardah Fajri
|
EditorWardah Fajri
KOMPAS.com - Sekali dalam seumur hidupnya, anak akan mengalami momen tumbuh kembang. Terkadang momen ini berupa aktivitas sederhana yang kerap luput dari perhatian apalagi apresiasi orangtua. Padahal, di balik momen tumbuh kembang ini orangtua bisa mengenali potensi anak.

Psikolog keluarga, Roslina Verauli, atau yang akrab dipanggil Vera,  mengatakan, perhatian dan apresiasi orangtua Berdampak besar. Tujuannya tak sekedar menunjukkan kepada anak bahwa dia bisa, melainkan mampu menguasai dengan baik dan siap untuk mencapai tahap tumbuh kembang berikutnya.

Momen tumbuh kembang tersebut bisa jadi merupakan suatu aktivitas sederhana yang dilakukan anak. Saking sederhananya, kadang momen penting ini luput dari perhatian orangtua. Misalnya, pertama kali si kecil dapat meniup. Momen ini mungkin terkesan sepele namun di balik keterampilan ini, anak tengah belajar hal penting.

Vera mengatakan, usia 1-3 merupakan periode di mana anak mulai aktif menjelajah dan mencoba berbagai hal baru. Hal-hal kecil yang tanpa disadari oleh orangtua ternyata seringkali memiliki arti penting.

Sejak hari pertama lahir, bayi dibiasakan untuk menerima makanan (dalam hal ini air susu ibu) dengan cara menghisap puting ibu, dan ketika ia lebih besar, puting ibu tergantikan oleh dot atau gelas. Kemampuannya dalam menghisap pun semakin baik dan kuat. Namun lain halnya dengan meniup yang biasanya mulai dilakukan anak ketika mereka berusia di 1,5 tahun ke atas dengan memainkan minuman di dalam gelas, atau memainkan gelembung sabun.

Menurut Vera, tanpa disadari, aktivitas ini merupakan salah satu latihan motorik oral, dikenal sebagai oromotor, yang akan membantu anak yang membantu dalam memperkuat dan menambah leksibilitas otot di sekitar daerah mulut. Hal ini akan memengaruhi artikulasi atau pengucapan kata secara benar.  

Karya pertama
Momen di mana si kecil di usia 1,5 tahun mulai bisa membuat bangunan menggunakan blok (lego), membuat menara dari empat kubus yang tersusun ke atas, ternyata menyimpan berbagai potensi perkembangan.

Pada saat itulah si kecil melatih kemampuan motorik serta berlatih untuk mengkoordinasikan gerakan tangan dengan mata. Lebih dari itu, dalam aktivitas ini ia juga dilatih meningkatkan kecerdasan spatial, yaitu kemampuan untuk menuangkan imajinasi yang ada di pikiran mereka dalam bentuk visualisasi, penguasaan akan jarak dan antispasi, serta persepsi ruang.

Banyak ahli juga menyarankan permainan blok dilakukan secara bersama, karena dipercaya mampu untuk melatih kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan lebih maksimal. Dalam beberapa studi yang dilakukan, permainan blok juga terkait dengan kecerdasan anak dalam ilmu matematika.




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X