Waspadai Risiko Alergi Tato Temporer

Kompas.com - 19/05/2014, 16:13 WIB
Shutterstock Ilustrasi motif henna.

KOMPAS.com - Rasa takut terhadap jarum tato dan kesulitan menghapus tato permanen membuat banyak orang yang ingin tampil gaya dengan tato memilih tato sementara. Walau sepintas lebih aman, tetapi tato temporer juga punya risiko kesehatan.

Badan pengawas obat dan makanan AS (FDA) mengeluarkan peringatan risiko alergi akibat tato temporer. Mereka yang mengalami adanya reaksi alergi akibat tinta tato juga diminta melaporkannya pada petugas kesehatan.

Kosmetik, termasuk tato, memang tidak membutuhkan persetujuan dari FDA sebelum diedarkan di pasaran seperti halnya obat-obatan. Tetapi, tinta pewarna yang dipakai kosmetik wajib mendapat persetujuan FDA.

Ada beberapa jenis tato temporer, baik yang menggunakan bahan tanaman seperti henna dan juga pewarna sintetis.

Tato dari henna merupakan pasta yang dibuat dari daun tanaman lawsonia yang dikeringkan. Biasanya henna digunakan untuk melukis bagian tangan dan kaki pada pengantin tradisional India atau Pakistan.

Beberapa produk henna dicampurkan dengan bahan pewarna rambut p-phenylenediamine (PPD) sehingga memunculkan warna hitam atau biru kebiruan. Meski sering dipakai untuk melukis kulit, tetapi baik henna atau PPD belum mendapat persetujuan FDA untuk digunakan pada kulit.

Bahan pewarna lain, jagua, dihasilkan dari buah pohon Genipa americana yang berasal dari Amerika Selatan. Penduduk pribumi di Amazon sudah sejak lama menggunakan jagua untuk menghias tubuhnya.

Reaksi alergi terhadap zat pewarna ini bisa berupa gatal dan bisul kecil-kecil di kulit. Dalam jangka panjang, reaksinya bisa berupa perubahan warna kulit dan meningkatkatnya sensitivitas pada matahari.

Tapi tentu saja bahaya tato permanen jauh lebih besar, terutama infeksi penyakit seperti hepatitis atau infeksi kulit.



EditorLusia Kus Anna

Close Ads X