Kompas.com - 24/09/2014, 07:00 WIB
|
Editor Syafrina Syaaf

KOMPAS.com – Coba layangkan pikiran Anda pada masa-masa bersekolah dulu, mata pelajaran apa yang membuat Anda kesal dan bosan? Pasti tak sedikit dari Anda yang menjawab matematika. Hal ini sangatlah dimaklumi mengingat pelajaran berhitung tersebut memang seperti momok pada sejumlah siswa, baik di waktu dulu ataupun sekarang.

Seperti dikutip nymetroparents.com, seorang direktur eksekutif di Vertex Academic Service bernama Jeff Sharpe mengatakan bahwa pelajaran matematika dapat mengasah kemampuan anak dalam berpikir menggunakan logika.

Maka dari itu, untuk membuat anak menggemari pelajaran ini, para orangtua mesti cerdik dalam membuat strategi belajar matematika tanpa anak merasa sedang belajar. Berikut beberapa kiat yang disarankan oleh Sharpe:

Katakan matematika itu mudah
Banyak orangtua yang tak menyadari bahwa sikap mereka yang kritis dan keras saat mengajari anak berhitung, membuat mereka tertekan sehingga sedari dini menyimpulkan matematika merupakan pelajaran sulit serta menyebalkan.

Maka dari itu, kala mengajari anak pelajaran matematika, bersikaplah lebih santai dan komunikatif. Buatlah waktu belajar jadi lebih menarik dengan memberikan contoh soal yang dekat dengan lingkungan dah kehidupan anak. Ingat, matematika bukan sekadar membuat anak piawai dalam berhitung, tapi juga untuk mengasah kemampuan penalaran.

Dekatkan matematika pada kehidupan sehari-hari anak
Janganlah memaksa anak untuk menyukai matematika. Lebih dari itu, jangan pernah menanamkan dalam pikiran si kecil bahwa anak pintar adalah anak yang cerdas menghitung. Sebaliknya, ciptakan proses belajar mengajar yang menyenangkan di rumah. Salah satunya dengan menyisipkan unsur matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Jika anak Anda masih duduk di bangku kelas dua atau tiga SD, maka batasi belajar matematika hanya sampai 30 menit. Sebab, lebih dari itu, otak anak yang telah seharian sekolah akan merasa penat dan bisa menyebabkan stres di usia dini.

Motivasi anak dengan meningkatkan rasa percaya diri
Pada lingkungan sosial kita, telah terlanjur paradigma yang mengatakan bahwa mereka yang menguasai matematika berarti cerdas dan tangkas. Alhasil, anak yang merasa lemah berhitung menjadi tak percaya diri dan merasa tak pintar.

Sebagai orangtua, sudah menjadi tugas Anda untuk memompa rasa percaya diri. Salah satu cara adalah dengan mencatat dan membuat grafik mengenai perkembangan kemampuan belajar anak, baik dalam pengurangan, penambahan, perkalian, dan pembagian. Melihat proses dalam sebuah grafik menarik akan merangsang keinginan belajar anak secara lebih baik.

Matematika buat anak lebih solutif
Sebuah penelitian di University of North Carolina’s School of Education menemukan bahwa siswa yang cepat dan mudah berhitung, memiliki intuisi yang lebih tajam dalam memecahkan persoalaan dan tantangan. Selain itu, mereka cenderung lebih cepat dalam mengenali kesalahan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.