“Mengapa Sakit Jiwa Saya Tak Sembuh-Sembuh Ya, Dok?”

Kompas.com - 29/09/2014, 10:45 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

Kesembuhan tentunya menjadi idaman semua pasien. Masalah medis apapun rasanya pasien tidak ada yang ingin tidak sembuh. Di satu sisi lainnya dokter tidak pernah menjanjikan kesembuhan. Dokter hanya akan mengatakan kalau dirinya akan berusaha semampunya untuk kesembuhan pasien.

Dalam ilmu kedokteran jiwa istilah sembuh pasien kadang bisa punya makna yang berbeda dengan psikiaternya. Inilah mengapa dalam praktek sehari-hari jika ada pasien yang menanyakan apakah gangguan jiwa yang dialaminya bisa sembuh maka saya biasanya akan bertanya, apa makna sembuh yang dimaksud pasien. Sering kali perbedaan persepsi ini yang sering terjadi di praktek sehari-hari.

Masalah gangguan jiwa secara umum jaman dahulu dibagi menjadi dua, yaitu gangguan jiwa psikotik dan gangguan jiwa neurotik (neurosis atau dulu disebut neurosa). Sebenarnya pembagian ini untuk menunjukkan adanya perbedaan dalam penilaian realita yang terganggu di antara kedua jenis pasien tersebut.

Gangguan jiwa psikotik yang termasuk skizofrenia dan gangguan waham adalah gangguan jiwa yang pasiennya mengalami gangguan dalam menilai realitas. Gangguan penilaian realitas ini maksudnya adalah gangguan dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang fantasi. Adanya halusinasi dan delusi (waham) adalah pertanda adanya gangguan dalam penilain realitas. Lebih jauh pembahasan ini pernah ditulis di beberapa artikel saya sebelumnya.

Sedangkan gangguan jiwa neurosis adalah gangguan jiwa yang tidak mengalami masalah dalam penilaian realitas. Walaupun tidak sepenuhnya tepat, maka yang termasuk di dalamnya adalah gangguan depresi, gangguan bipolar, gangguan kecemasan, gangguan kepribadian dan gangguan somatoform.

Mengapa saya katakan tidak sepenuhnya tepat, karena pada gangguan depresi dan gangguan bipolar bisa juga ditemukan adanya masalah penilaian realita. Misalnya pada gangguan depresi berat dengan adanya halusinasi yang menyuruh orang itu untuk bunuh diri. Begitu juga pada gangguan bipolar. Pembagian ini sekarang sudah jarang disebutkan lagi karena masing-masing gangguan jiwa dikatakan langsung dengan diagnosis yang sesuai dengan pedoman diagnosis yang berlaku (DSM atau ICD-10).

Apakah Gangguan Jiwa Bisa Sembuh?

Pertanyaan seputar kesembuhan gangguan jiwa memang biasanya mengundang dilema. Apalagi dengan persepsi awam yang mengatakan yang dimaksud dengan sembuh itu adalah tidak menggunakan terapi lagi baik obat maupun non obat. Ini sama saja dengan mengatakan apakah pasien yang mengalami darah tinggi bisa dikatakan sembuh jika masih makan obat setiap hari dan seumur hidup?. Sekiranya apa yang dialami oleh pasien gangguan jiwa seperti itu.

Ketika seorang mengalami masalah kejiwaan yang berkaitan dengan gangguan pada pikiran, perasaan dan perilakunya maka sebenarnya tidak semua memerlukan pengobatan. Pada beberapa kasus masalah kejiwaan bisa sembuh sendiri tanpa bekas. Hal ini disebabkan karena daya adaptasi manusia itu sendiri dalam menghadapi masalah.

Selain itu juga karena sifatnya yang multifactorial, pemicu masalah kejiwaan sering kali tidak sama setiap orangnya walaupun diagnosis akhirnya sama. Sehingga tidak bisa dibandingkan antara satu pasien dengan pasien yang lainnya walaupun diagnosis sama. Seorang pasien dengan gangguan depresi bisa tanpa obat dalam terapinya tapi pasien yang lain harus makan obat bahkan sampai seumur hidup.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X