Inovasi 6 Perancang dan Penata Busana Indonesia di Jakarta Fashion Week 2015

Kompas.com - 04/11/2014, 15:18 WIB
Koleksi kolaborasi enam desainer IPPMI dengan enam penata busana KOMPAS.COM/SILVITA AGMASARIKoleksi kolaborasi enam desainer IPPMI dengan enam penata busana
|
Editor Syafrina Syaaf

KOMPAS.com -- Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI)  berpartisipasi dalam panggung Jakarta Fashion Show 2015.

Namun, kali ini IPPMI mempersembahkan pergelaran yang berbeda dari biasanya. yang berbeda dari panggung fashion show IPMI yang biasanya. Sebab,  enam desainer anggota IPMI berkolaborasi dengan penata busana ternama di Indonesia. Tujuannya untuk membuka peluang para kreator yang tergabung dalam IPMI untuk bekerja sama dengan profesi kreatif lainnya. 

Dengan tema A.NOM.A.LIS.TIC, parade fashion show dari enam perancang ini, merupakan gambaran kreativitas yang keluar dari jalur pakem, dibantu dengan konsep out of the box dari penata busana.

Dimulai dari peragaan busana desainer Tri Handoko yang berkolaborasi dengan stylist, Adi Surantha, dengan tema Requiem. Dalam bahasa latin, Requiem memiliki arti ritual misa arwah dan mistis. Alhasil, seluruh koleksi busana yang ditampilkan berwarna hitam, dengan potongan pada blazer, celana panjang, serta rok pensil, yang ditumpuk menjadi terkesan modern. Tak lupa sentuhan bunga mawar merah, serta tudung kepala renda yang mengisahkan para model bak tengah berduka dan dirundung kesedihan.

Kemudian, parade fashion show kedua menampilkan rancangan Yogie Pratama yang berkolaborasi dengan stylist, Kesya Moed Jenan. Serangkaian gaun pesta dan cocktail dress glamour ditampilkan Yogie dalam warna merah, emas, serta hitam yaang memberi kesan klasik retro. Lalu, aksen ruffle di bagian pungung serta lengan.

Uniknya, Yogie membiarkan Kesya menambahkan akesoris topi caping petani bewarna emas, sehingga tercipta tampilan unik dan mencolok dalam koleksi busana yang bertajuk, Une affaire de Femmes, yang berarti Cerita Seorang Wanita.

Dilanjutkan dengan fashion show koleksi Mel Ahyar, yang berkolaborasi dengan Thornandes James, menampilkan koleksi Suvarnabhumi, yang terinspirasi dari kejayaan kerajaan Sriwijaya. Aksen 3D ditampilkan lewat bordir, dan lukisan bewarna cerah pada kain warna hitam dan nude. Nampaknya, busana Mel kali ini lebih tepat diungkapkan sebagai seni, bukan karya mode semata.

Kemudian, Danny Satriadi yang berkolaborasi dengan Rajasa Pramesywara, menampilkan busana etnik penuh detail bordir memukau. Warna musim gugur dan musim panas seperti biru, oranye, dan hijau. Keseluruhannya menggabungkan batik pada gaya busana modern seperti crop top dan kemeja. 

Selanjutnya, menampilkan karya Stepahnus Hamy yang berkolaborasi dengan Ajeng Svastiari. Dengan tema chic and clean, Stephanus hadirkan busana dengan dominasi warna merah hitam, sederhana namun modern. Dengan gaya rancang asimertis dan bahan tembus pandang kekinian.

Terakhir, ada Carminita yang berkolaborasi dengan penata busana, Dewi Utari. Mereka menampilkan busana berwarna putih, Carminita bermain warna pada aksen busana beraksen bunga di bagian dada.




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X