Kompas.com - 17/03/2015, 15:19 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Susana Yembise pada acara Citi Peringatan Hari Perempuan Sedunia di Bapindo Plaza, Selasa (17/3/2015). KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWANMenteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Yohana Susana Yembise pada acara Citi Peringatan Hari Perempuan Sedunia di Bapindo Plaza, Selasa (17/3/2015).
|
Editor Syafrina Syaaf

JAKARTA, KOMPAS.com — Menurut data Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, angka kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) paling tinggi terjadi di kawasan Indonesia timur, khususnya Papua. Kekerasan yang dialami para perempuan di sana ternyata terjadi lantaran faktor adat dan budaya.

Regina Maubuay dari Koalisi Perempuan Papua Bangkit menjelaskan, faktor patriarki yang berlaku di masyarakat Papua sejak lama turut menjadi pemicu kaum perempuan mengalami kekerasan. Budaya patriarki tersebut menempatkan perempuan berada di bawah bayang-bayang kaum adam.

"Di Papua karena kita terkait budaya sehingga kebebasan untuk perempuan tergantung laki-laki. Kalau ada perempuan yang mulai mempunyai kemampuan atau pintar kadang tidak disetujui karena adat," ujar Regina dalam acara Citi Indonesia Women Council: International Women's Day di Plaza Bapindo, Selasa (17/3/2015).

Selanjutnya, Regina menjelaskan, adat membuat posisi perempuan Papua berada di bawah kaum adam, sekalipun dia memiliki kemampuan yang melebihi laki-laki. Kemudian, dalam budaya pernikahan di Papua, maskawin membuat laki-laki seakan merasa bebas untuk memperlakukan istri menurut kehendaknya.

Dalam pernikahan, terkadang orangtua mempelai wanita meminta maskawin dalam jumlah besar kepada mempelai pria, bahkan hingga ratusan juta rupiah, sehingga ketika melakukan kekerasan, para pria menganggap hal itu sudah sewajarnya karena telah "membayar".

"Kalau laki-laki sudah bayar karena dia sudah merasa membeli, lalu mereka memukul. Makanya, ada juga orangtua yang tidak mau menerima maskawin. Saya juga tidak mau menerima maskawin kalau anak saya menikah, karena saya takut laki-laki akan seenaknya ke anak saya," papar Regina.

Oleh karenanya, Regina menyatakan, pihaknya telah menempuh berbagai upaya agar kekerasan terhadap perempuan tidak lagi terjadi secara berlarut-larut. Upaya tersebut pun, kata dia, akan terus dilakukan agar para pria di Papua tidak lagi melakukan kekerasan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami mau adakan dialog, kami ajukan supaya laki-laki bicara terbuka ke perempuan. Kami mau dengar langsung laki-laki Papua maunya apa," terang Regina.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.