Kompas.com - 03/07/2015, 04:04 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Pikiran dan tubuh itu saling terhubung satu sama lain. Coba saja perhatikan, kalau Anda sedang stres, biasanya suka terjadi gangguan lambung. Karenanya, jangan sepelekan kekuatan pikiran, terlebih pikiran negatif. Mengingat pikiran negatif dapat menjurus pada masalah kesehatan yang serius. 

Banyak emosi negatif seperti rasa marah, takut, dan frustasi, dikatakan Emiliana Simon-Thomas, Ph.D, direktur sains dari Greater Good Science Center, UC Berkeley, menjadi masalah ketika emosi tersebut menetap. Contoh saja sinisme. 

Studi 2014 yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology, menghubungkan kadar sinisme yang tinggi dengan kepikunan di kemudian hari. Studi lainnya tahun 2009 yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation menjumpai, bahwa dari 100 ribu perempuan yang diteliti, mereka yang paling sinis lebih cenderung mengalami penyakit jantung. Dan semakin pesimis seorang perempuan, mereka lebih tinggi memiliki kemungkinan untuk meninggal selama periode studi dibandingkan yang lebih optimis. 

Perilaku jelek lainnya yang telah dihubungkan dengan kesehatan yang buruk adalah kebencian. Studi 2014 yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke menunjukkan mereka yang memiliki skor lebih tinggi atas ukuran ketidakramahan, berisiko lebih tinggi untuk stroke dibandingkan partisipan yang lebih ramah dan baik. 

Sementara itu, depresi juga telah dihubungkan dengan peningkatan risiko atas diabetes melitus tipe 2, serangan jantung, kemungkinan lebih besar untuk kecacatan di kemudian hari. 

Menurut Simon-Thomas, emosi telah menyebarkan efek terhadap proses tubuh seperti metabolisme, pelepasan hormon, maupun fungsi imunitas. Satu teorinya adalah bahwa ketika Anda sedang stres atau mengalami depresi, kadar kortisol meningkat, membuat sistem imunitas kurang mampu mengontrol peradangan yang terjadi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan penyakit di kemudian hari. 

Kecenderungan lainnya, mereka yang merasakan emosi yang tidak enak, seperti stres atau sinis, lebih berkemungkinan untuk merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, atau tidak aktif secara fisik. Yang kesemuanya dapat memengaruhi kesehatan. Kemungkinan berikutnya, emosi negatif yang dialami seseorang, bisa merupakan gejala awal dari gangguan kesehatan. 

Untungnya, ada hal yang dapat dilakukan untuk mengenyahkan hal negatif yang dialami, yaitu dengan mengubah perspektif Anda. Cara tersebut akan membantu memperbaiki kesehatan Anda.

Sebagai pengingat, sel otak menghasilkan sel baru sepanjang hidup. "Dan neurogenesis ini, tidak hanya dihubungkan dengan pembentukan ingatan baru, tetapi juga stabilitas suasana hati. Karenanya, Anda perlu mengontrol perilaku dan kesehatan Anda," lanjut Simon-Thomas.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X