Benarkah Anak yang Memilih Makanan Memiliki Masalah Perkembangan Mental?

Kompas.com - 07/08/2015, 11:00 WIB
Ilustrasi today.com/ shutterstockIlustrasi
|
EditorAlvin Dwipayana

KOMPAS.com - Tak sedikit anak yang memiliki kebiasaan memilih makanan. Kebanyakan menghindari sayuran hijau dan cenderung hanya mengonsumsi makanan yang disukai. Ada baiknya, Anda mulai menghentikan kebiasaan buruk anak dalam memilih makanan. Pasalnya, sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak yang gemar memilih makanan cenderung memiliki masalah perkembangan mental dua kali lebih besar di masa medatang.

Penelitian yang dilakukan oleh Duke University ini mengamati 3.000 anak berusia dua sampai enam tahun. Anak-anak ini diinvestigasi secara mendalam mengenai korelasi kesehatan mental dan kebiasaan memilih makanan. Hasilnya anak yang gemar memilih makanan menunjukan tingkat kegelisahan serta gejala dari depresi.

Penulis penelitian, dr Nancy Zucker menyarankan bagi orangtua yang anaknya gemar memilih makanan, untuk segera mencari bantuan profesional. Untuk itu, seorang pengasuh profesional asal Inggris, Claire Burgess, menyarankan para orangtua untuk mengajak anaknya makan makanan sehat, dan jangan terlalu cepat berasumsi.

"Kebanyakan bayi memiliki indera yang belum terasah. Maka mereka perlu memegang, membaui, serta merasakan barang-barang disekitarnya, termasuk makanan," tukas Burgess. Menurutnya juga, kebanyakan orangtua terlalu cepat berasumsi bahwa anaknya tak menyukai makanan tertentu karena akan memuntahkan atau menunjukkan wajah yang tak senang.

"Mereka perlu diperkenalkan kembali dengan makanan tersebut. Ingatlah bayi mengalami transisi dari minuman susu yang rasa dan bentuknya sama hingga menjadi makanan keras," tambah Burgess. Hal selanjutnya yang diperlukan oleh orangtua menurut Burgess adalah menaruh makanan dengan jumlah kecil ke piring anak, dan meminta mereka untuk mencobanya tanpa memaksa.

Tak jarang orangtua menaruh makanan dengan jumlah berlebih di piring, kemudian meminta anak menghabiskannya. Burgess menambahkan, "Memaksa anak untuk makan sampai piring bersih sebenarnya memberi pandangan negatif tentang makanan dan malah membuat anak ingin menghindarinya." Sebisa mungkin, Burgess menyarankan orangtua untuk ikut makan bersama sang anak, dan mengajak mereka berbicara. Sehingga fokus sang anak tak hanya pada rasa makanan, namun juga sosialisasi dengan orangtuanya.



Sumber Dailymail
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X