Ketika Sesama Pasien Hepatitis C Saling Bantu Melawan Penyakitnya

Kompas.com - 22/12/2015, 09:23 WIB
Thinkstock.com Ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com – Diperkirakan ada 28 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi hepatitis B dan C, dan 14 juta di antaranya berpotensi menjadi kronis. Sayangnya, ketersediaan obat hepatitis C yang diyakini efektif belum ada di Indonesia.

Obat-obatan untuk hepatitis C, seperti Sofosbuvir, Ledipasvir, dan Daciastavir yang merupakan golongan obat Direct Acting Antiviral (DAA), diyakini memiliki efektivitas mencapai 95 persen.

Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif LSM Indonesia AIDS Coalition, yang juga pasien hepatitis C mengatakan, konsumsi Sofosbuvir dalam waktu 4 minggu telah membuat virus hepatitis C menjadi tidak terdeteksi di tubuhnya.

Sayangnya, harga obat ini sangat mahal dan sulit dicari di Indonesia. "Satu butir Sofosbuvir versi paten dijual dengan harga 14 juta", kata Aditya.

Kesulitan mengakses obat-obatan hepatitis C membuat Koalisi Obat Murah membentuk “Indonesia Buyers Club” (IBC) yang terinspirasi dari film Dallas Buyers Club.

“Tujuannya agar kelompok pasien hepatitis C bisa saling bahu-membahu membantu pasien lainnya guna mendapatkan obat hepatitis C dengan lebih mudah dan murah,” kata Aditya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/12/2015).

Indonesia Buyers Club, yang anggotanya merupakan pasien hepatitis C, membantu pasien lainnya untuk mendapatkan obat-obatan jenis Sofosbuvir, Ledispavir, serta Ribavirin yang langsung dikirimkan dari India.

Harga jual obat-obatan generik dari India memang jauh lebih murah ketimbang obat paten. Obat generik Sofosbuvir, termasuk Ribavirin di India, berharga Rp 2,5 juta per botol.  Sedangkan untuk harga satu botol Sofosbuvir dan Ledipasvir yang baru dikeluarkan di India berkisar 350 dollar per botol atau sekitar Rp 4,8 juta.

IBC mendapat informasi soal adanya obat versi generik ini di India dari rekan-rekannya di luar Indonesia. “Kami berjejaring secara global dengan rekan-rekan, seperti di India serta Amerika Serikat, untuk mendapat obat ini,” ujarnya.

Aditya menjelaskan bahwa harga yang harus dibayar oleh pasien sesuai dengan harga asli obat tersebut di India belum termasuk ongkos kirim. “IBC hanya memfasilitasi agar pasien bisa membeli obat tersebut dengan harga murah sesuai yang dijual supplier di India. Kami tidak mengambil profit satu peser pun, dan harga tersebut belum termasuk ongkos kirim,” katanya.

"Obat-obatan ini sebenarnya sudah tersedia di salah satu rumah sakit di Jakarta, yakni Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo, namun harganya masih mahal, kurang lebih Rp 3-4 jutaan per botol," ujarnya.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


EditorLusia Kus Anna
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X