Cegah Kenaikan Berat Badan di Musim Hujan - Kompas.com

Cegah Kenaikan Berat Badan di Musim Hujan

Kompas.com - 31/12/2015, 13:11 WIB
SHUTTERSTOCK Ilustrasi

KOMPAS.com - Memasuki musim hujan, cuaca yang beberapa waktu lalu sangat kering, kini menjadi lebih dingin. Di cuaca seperti ini, seringkali kita tidak bisa menahan nafsu makan.

Apakah ini karena insting dasar bahwa kita memerlukan karbohidrat dan lemak lebih banyak untuk bisa bertahan di udara dingin? Atau karena di musim dingin, ternak beranakpinak sehingga ketersediaan daging di pasar meningkat dan kita tergoda karenanya?

Inilah beberapa teori yang menjelaskan penyebab mengapa berat badan kita cenderung naik, karena lebih banyak makan di musim hujan yang dingin.

 

Lapar karbohidrat? Bisa jadi Anda mengalami SAD

Jika saat cuaca dingin, Anda sangat ingin mengudap makanan berbahan dasar karbohidrat seperti pasta, mie, kue, bolu, donat dan sejenisnya, mungkin Anda sedang menderita  Seasonal Affective Disorder atau SAD.

SAD adalah jenis gangguan emosi sementara yang terjadi pada musim bercuaca dingin. Di saat itu, orang akan cenderung merasa murung dan sedih. Ini adalah hal yang normal dan Anda tak perlu khawatir.

Banyak penelitian mengungkapkan, makanan berkabohidrat tinggi dan berlemak dapat mendorong produksi hormon bahagia. Itulah sebabnya, orang sedang menderita SAD punya keinginan kuat untuk mengonsumsi donat dan steak.

Untuk menjaga agar diet Anda tidak berantakan di musim bercuaca dingin, perbanyaklah konsumsi asam lemak Omega-3 dari sumber alami seperti ikan laut. Omega-3 telah terbukti memiliki kemampuan meningkatkan suasana hati sementara protein akan membantu Anda kenyang lebih lama.

Jika Anda tetap ingin makan pasta dan keju, misalnya, pilihlah pasta yang terbuat dari gandum utuh dan tambahkan beberapa potong daging dada ayam rendah lemak atau telur sebagai sumber protein. Tambahkan juga sayur sebagai sumber vitamin dan serat.

Jika yang Anda inginkan adalah sejenis makanan atau minuman penutup (dessert), cobalah secangkir dark chocolate panas. Dark chocolate dapat menaikkkan kadar lemak baik di dalam darah, sekaligus berfungsi memperbaiki suasana hati.

Studi dari Yale University mengatakan, sesuatu yang hangat seperti mandi air hangat atau minum minuman hangat dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia dan tidak terlalu kesepian.

 

Hari mendung berarti lebih banyak makan

Kecenderungan untuk makan berlebihan selama cuaca dingin,  mungkin disebabkan oleh masalah biologis. Ira Ockene, MD, seorang ahli jantung di University of Massachusetts Medical School mengatakan bahwa kecenderungan untuk makan dalam jumlah yang lebih banyak di  musim bercuaca dingin, adalah impuls primitif untuk menyimpan lemak sebagai 'senjata' agar bisa bertahan di udara dingin. Sebagaimana kita tahu, lemak adalah sumber kalori dan panas bagi tubuh.

Sebuah studi tahun 2005 yang diterbitkan dalam jurnal Nature menemukan bahwa pola makan makhluk hidup  bervariasi dari musim ke musim, seperti halnya berat badan.

Para peneliti menemukan, bahwa peserta studi mengonsumsi rata-rata 86 kalori lebih banyak  perhari di musim dingin dibanding saat musim berudara panas.

Pada saat udara dingin, para peserta juga lebih banyak mengonsumsi  lemak. Sementara itu, tingkat aktivitas fisik mencapai level terendah saat udara sedang dingin.

Penelitian itu juga mengatakan, bahwa kurangnya cahaya mendorong kita untuk mencari makanan dan makan dengan lebih cepat.

 

Bukan masalah biologis

Namun, menurut beberapa ilmuwan, penambahan berat badan di musim yang dingin hanya produk dari lingkungan, bukan masalah biologis. Misalnya di negara kita, akhir tahun adalah masa-masa libur panjang. Hal ini, akan mendorong orang-orang menjadi euforia menyambut libur, salah satunya adalah dengan lebih sering makan di restauran, dengan menu lebih beragam dan jumlah lebih banyak.

Belum lagi bagi yang merayakan Natal dan Tahun Baru. Biasanya, perayaan sama diidentikkan dengan makan enak dan berlemak.  Hal ini ditambah dengan penurunan aktivitas fisik selama bulan-bulan di musim yang dingin.

Penelitian baru juga menyoroti mengapa kita makan berlebihan selama musim yang dingin. Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Canada University of Maryland menemukan, bahwa emosi juga berperan terhadap pola makan berlebih di saat perayaan.

Ibu atau nenek Anda, misalnya, masak makanan istimewa untuk merayakan Natal atau Tahun Baru. Didorong ikatan emosional, Anda tentu akan  menyantap masakan itu dengan lahap, bahkan berlebih.

Cara mengatasinya? Cobalah bujuk ibu atau nenek Anda untuk mencoba memasak menu baru yang lebih sehat dengan bahan dada ayam tanpa lemak, biji-bijian, sayur dan buah.

Untuk Anda sendiri, teguhlah untuk tak perlu makan semua jenis makanan yang tersedia di meja. Ingat juga, jangan makan berlebihan, ya, supaya tidak menyesal kemudian.


EditorBestari Kumala Dewi

Close Ads X