Hipertensi, "Pembunuh" dalam Diam - Kompas.com

Hipertensi, "Pembunuh" dalam Diam

Kompas.com - 13/02/2016, 10:00 WIB
shutterstock Ilustrasi.
JAKARTA, KOMPAS.com - Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan penyakit yang cukup banyak diderita masyarakat Indonesia. Sayangnya, banyak masyarakat yang tidak menyadari memiliki tekanan darah tinggi.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, pasien hipertensi mencapai 25,8 persen. Namun, sebanyak 60 persen pasien tidak sadar menderita hipertensi dan lebih dari 80 persen tidak rutin mengontrol tekanan darah.

Dokter spesialis saraf Yuda Turana mengatakan, hipertensi sering menjadi silent killer atau pembunuh diam-diam.

"Disebut silent killer karena banyak yang tidak sadar, diam-diam sudah tahap gagal ginjal, stroke, atau jantung," ujar Yuda dalam acara jumpa pers the 10th Scientific Meeting InaSH 2016 di Jakarta, Jumat (12/2/2016).

Tingginya tekanan darah dapat penyebabkan pembuluh darah pada ginjal terus tertekan dan lama-kelamaan rusak. Hipertensi dapat menghambat proses penyaringan dalam ginjal bekerja dengan baik. Fungsi ginjal pun menurun.

Selain itu, hipertensi juga bisa menyebabkan pecahnya pembuluh darah di otak. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya stroke, yaitu kematian jaringan di otak karena kurangnya aliran darah dan oksigen ke otak.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal hipertensi, Tunggul D Situmorang, mengatakan, kebanyakan kasus hipertensi tidak memunculkan gejala sehingga disebut silent killer.

Dalam beberapa kasus, pasien biasanya merasakan gejala saat tekanan darahnya naik, seperti sakit kepala, gangguan penglihatan, jantung berdebar-debar, sulit bernapas, dan mudah lelah. Namun, gejala tersebut sering kali tak disadari sebagai hipertensi.


Tunggul menjelaskan, tekanan darah normal tidak lebih dari 140/90 mmHg. "Jadi, sekarang seharusnya rutin periksa tekanan darah sendiri di rumah. Lakukan saat sedang tenang. Harus konsisten," ujar Tunggul.

EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X