Berkat Tenun, Anak SD Nusa Tenggara Timur Bisa Sekolah

Kompas.com - 16/03/2016, 06:20 WIB
Hasil tenun sotis siswa kelas 3 SD, Krisanti Afenda Funan yang dipamerkan si Benatar Budaya Jakarta Silvita AgmasariHasil tenun sotis siswa kelas 3 SD, Krisanti Afenda Funan yang dipamerkan si Benatar Budaya Jakarta
|
Editor Syafrina Syaaf

KOMPAS.com -- Selain berlajar dan bermain, anak-anak Sekolah Dasar di kecamatan Biboki, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki aktivitas lain, yakni menenun.

Karya tenun mereka berupa syal dapat langsung dijual dengan harga Rp 15.000 - Rp 40.000.

Selain itu, hasil tenun mereka  dijual ke Jakarta dan uangnya dikumpulkan untuk beasiswa para penenun cilik di NTT. 

Para perajin tenun cilik ini muncul berkat ide Yovita Meta Bastian, seorang ibu sekaligus pekerja LSM Tafean Pah.

Wanita yang akrab disapa mama Yovita tersebut, mulai khawatir melihat sedikitnya jumlah generasi muda yang mau melestarikan kerajinan tenun.

"Semua anak disuruh sekolah, sedangkan disekolah tak ada kurikulum menenun. Hanya anak-anak yang tak mampu bersekolah (kondisi ekonomi kurang baik) yang menenun," ujar mama Yovita di acara jumpa pers Cerita Tenun Tangan di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Selasa (15/3/2016).

Akhirnya, mama Yovita mengajukan surat ke pemerintah untuk membuka kurikulum khusus menenun dan melakukan pendekatan ke berbagai sekolah.

"Tidak mudah awalnya, ada sekolah yang menolak, tapi ada juga yang menyambut baik," imbuhnya. 

Kini, ada tiga sekolah yang dibimbing oleh mama Yovita dan rekan. Sebanyak 16 siswa SMP dan 55 anak SD mendapatkan beasiswa untuk membantu biaya sekolah.

"Mereka sangat senang bisa mendapat uang. Masalahnya, uangnya sering habis untuk jajan. Jadi, kami bilang boleh jajan tapi setengahnya disimpan untuk membeli bahan tenun," terangnya dan disambut tawa para tamu yang hadir.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X