Pendidikan Seks Kunci Cegah Kasus Pemerkosaan - Kompas.com

Pendidikan Seks Kunci Cegah Kasus Pemerkosaan

Kompas.com - 22/05/2016, 20:25 WIB
Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan seks berperan penting mencegah kasus pemerkosaan. Alasannya, seseorang yang terdidik baik mengenai seksualitas tak akan melakukan tindak pemerkosaan.

 

Zoya Amirin, psikolog seksual, mengatakan kalau pendidikan seks tak bisa lagi disebut hal tabu. Semakin ditabukan, semakin bikin penasaran.

 

Ketika penasaran, seseorang akan mencari akses mengenai informasi tentang seks. Sialnya, masih banyak orang mendapat informasi yang salah mengenai seks.

 

Pendidikan seks ini hendaknya dimulai sejak kecil. Atau setidaknya, ketika anak laki-laki mulai mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pertama.

 

Pendidikan seks yang benar memberi informasi yang tepat sehingga tak terjadi salah mengerti. Anak-anak pun bisa menjadi pribadi yang lebih baik ketika beranjak dewasa.

 

“Misalnya, pria yang mendapat pendidikan seks dengan benar tahu bagaimana menangani rangsangan seksual. Yang jelas bukan dengan memerkosa, apalagi sampai membunuh,” tegas Zoya ketika berbincang dengan Kompas.com.

 

Soal rangsangan seksual, lanjut Zoya, itu tak bisa dihindari dan manusiawi. Hanya saja penanganannya harus tepat.

 

“Misalnya diajari bagaimana cara pacaran yang sehat. Lalu bagaimana menghargai cara menyampaikan perasaan dengan sopan, termasuk ketika menolak atau ditolak lawan jenis,” jelas Zoya.

 

Zoya menambahkan kalau pendidikan seks yang benar itu tak selalu soal kelamin. Di situ dijelaskan juga bagaimana seseorang bertindak sesuai jenis kelaminnya.

 

Menurut Zoya, dari sisi medis, seseorang bisa saja memiliki pengetahuan mengenai alat kelamin yang sempurna. Tapi ia tak bisa menghargai orang lain dalam hal seksual.

 

Misalnya, lanjut Zoya, melakukan pelecehan seksual. Yang paling sering ditemui adalah siulan atau panggilan “cewek, godain kita dong” ketika melihat wanita lewat.

 

“Hal seperti itu membuat risih. Padahal pria sejati tak akan membuat wanita menjadi risih. Apalagi, memaksakan kehendak seksual. Logikanya, memang kalau sudah memerkosa lalu patut menyandang predikat pria sejati?” tanya Zoya.

 

Untuk itu, Zoya mengajak kaum pria untuk lebih menghargai wanita. Seperti menghargai ibu kandung atau saudaranya sendiri.

 

“Kalau pria bisa menghargai wanita dengan benar, pria itu pasti akan dipandang sebagai gentleman. Asal tahu saja, wanita senang dengan gentleman,” imbuh Zoya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorBestari Kumala Dewi

Close Ads X