Kompas.com - 08/06/2016, 19:04 WIB

 

KOMPAS.COM -- Donna Ferrato adalah fotografer yang mengubah bagaimana Amerika Serikat melihat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Di tahun 1991, Ferrato mempublikasikan bukunya yang berjudul “Living with the Enemy”, buku pertama yang membuka aib Amerika Serikat dan menunjukan kekerasan di dalam rumah tangga secara detail.

Namun, perjalananan Ferrato sebagai fotografer KDRT dimulai sepuluh tahun sebelumnya, di tahun 1981 ketika Ferrato ingin mendokumentasikan cinta.

Dia menemukan sepasang suami istri muda yang bahagia, kaya dan bergaya untuk menjadi fokus lensanya. Pasangan ini mengundang Ferrato untuk tinggal di rumah mereka selama berbulan-bulan.

Namun, pada satu malam, semuanya berubah. Ferrato mendapati sang suami memukuli istrinya di wajah dan memotret kejadian tersebut untuk menghentikannya, tapi sang suami tidak berhenti.

Dalam wawancara dengan Huffington Post, dia berkata, “Aku sangat kaget karena dia sepertinya merasa berhak untuk memukul istrinya, bahkan di depan orang asing, hanya karena wanita tersebut adalah istrinya.”

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selama berbulan-bulan Ferrato menyimpan film tersebut hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mondokumentasikan KDRT.

Momen tersebut mengubah hidupnya. Dipersenjatai dengan kamera, Ferrato berkeliling ke tempat penampungan untuk korban KDRT, ruang UGD, program untuk pelaku KDRT, kantor polisi dan penjara.

Beberapa dari foto-foto tersebut dipublikasikan di majalah Philadelphia Inquirer.

“Itu seperti bom yang meledak. Orang-orang kaget ketika mereka melihat wajah wanita sungguhan dengan mata lebam dan biru di sampul majalah hari Minggu mereka. Akhirnya kucing sudah keluar dari karung... Tidak ada yang bisa berpura-pura tidak tahu mengenai betapa besarnya masalah ini” ujarnya.

Untungnya tahun 80-an adalah awal dari gerakan wanita yang mendorong perubahan legislasi untuk menghukum pelaku KDRT. Foto-foto Ferrato menjadi bukti untuk menggalang dana, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menyelamatkan banyak wanita dan anak-anak dari KDRT.

Walaupun Amerika Serikat yang sekarang sudah berbeda dari Amerika Serikat di tahun 1981, Ferrato berkata bahwa misinya belum selesai, terutama dengan banyaknya pria yang masih merasa bahwa mereka berhak memukuli istri dan bepikir bahwa sebagai istri, wanita seharusnya menerima perlakuan tersebut.

Dia berkata, “KDRT adalah satu halaman dari neraka, sebuah ketidakadilan terhadap hak kita sebagai rakyat di dunia yang bebas. Dia adalah sebuah penghinaan bagi semua orang, tidak hanya korban. Aku berpikir bagaimana seseorang bisa merasa bahagia dalam hidup mereka walupun tahu bahwa di jalanan yang mereka tinggali, seorang wanita diperkosa dan disiksa di rumahnya!”

“Apa gunanya sebuah rumah jika pria diperbolehkan menyiksa dan melakukan kekerasan pada orang-orang yang tinggal di dalamnya, seakan-akan mereka adalah tawanan?” pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X