Kompas.com - 17/06/2016, 20:04 WIB

KOMPAS.COM -- “Di Kenya, banyak anak remaja yang percaya bahwa meminum segelas Coca Cola sebelum dan setelah hubungan seksual dapat mencegah anak perempuan dari kehamilan,” kata Maureen Oduor, pengajar kesehatan seksual yang lahir di Kenya dan bekerja di Tanzania.

Oduor tahu bahwa soda tidak mencegah kehamilan. Dia juga tahu bahwa mitos Tanzania dan Kenya yang mengatakan jika anak perempuan tidak berhubungan seks di usia muda, maka vagina mereka akan menutup, hanyalah mitos belaka.

Namun, banyak mitos mengenai kontrasepsi yang beredar dan menyesatkan wanita.

Salah satu mitos yang populer dan salah menyebutkan bahwa kontrasepsi membuat wanita mandul atau melahirkan anak dengan kelainan.

Hal ini diakui juga oleh jurnalis Ana Santos dari Filipina. Dia mengatakan bahwa banyak orang di negaranya yang percaya bahwa melompat-lompat dan minum air kelapa dengan deterjen atau pemutih setelah seks dapat mencegah kehamilan.

Bekerja untuk SHDEPHA, sebuah organisasi yang melawan diskriminasi terhadap korban HIV/AIDS dan memberikan edukasi dan layanan gratis mengenai kontrasepsi, Oduor sangat menggebu-gebu mengenai edukasi seksual sejak dini.

Semangat ini berawal dari saat Oduor masih berusia 13 tahun ketika dia kembali ke asrama. Oduor menemukan temannya yang seumur di ranjang dalam keadaan tidak sadar dan bersimbah darah. Bersama dengan 7 orang temannya, Oduor menggotong temannya tersebut sejauh 8 kilometer.

Akan tetapi, teman tersebut meninggal ketika mereka mencapai rumah sakit. Staf rumah sakit yang bertugas mengatakan bahwa penyebab anak perempuan tersebut meninggal adalah karena komplikasi kehamilan dan aborsi yang tidak aman.

Berbicara dengan Refinery29 saat ditemui di Konferensi Keluarga Berencana Internasional 2016 di Indonesia, Oduor mengatakan, “Yang membuatku paling marah dan bertanya-tanya adalah kenyataan bahwa cerita ini disembunyikan. Mereka (staf di sekolah Oduor) berkata bahwa anak perempuan tersebut hanya sakit, meninggal dan akan dikubur.”

“Dia tidak diajari mengenai keluarga berencana, dia tidak diajari mengenai bagaimana menegosiasikan [seks]... Aku menyaksikan hal tersebut dan itulah saat duniaku terbalik, dan aku berkata, ‘adakah yang bisa kulakukan?’” ujarnya.

Di usia 30, Oduor telah membangun grup konseling di asramanya dan memimpin berbagai organisasi untuk membantu remaja di Kenya dan Tanzania dengan satu pesan yang jelas: anak muda melakukan hubungan seksual dan mereka memiliki hak untuk melakukannya dengan aman.

“Anak muda siap untuk ini, dan waktunya adalah sekarang – kita tidak bisa berkata bahwa hal tersebut masih besok,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.