Beasiswa Perawan Afrika Selatan Dianggap Diskriminasi

Kompas.com - 24/06/2016, 11:05 WIB
Ilustrasi

KOMPAS.COM -- Di era modern ini, Afrika Selatan masih menjadi tempat yang tidak ramah terhadap wanita.

Seperti yang diucapkan oleh Ketua untuk Komisi Kesetaraan Jender, Mfanozelwe Shozi, “Ada isu seputar diskriminasi dengan basis keperawanan, kehamilan dan bahkan terhadap anak laki-laki.

Shozi mengatakan hal tersebut sebagai respon terhadap walikota Uthukela, Afrika Selatan, Dudu Mazibuko, yang membagikan penghargaan bernama “Maiden Bursary Awards”.

Penghargaan ini adalah sebuah beasiswa kuliah yang diberikan kepada 16 anak perempuan yang masih perawan setelah lulus sekolah menengah ke atas (SMA).

Mazibuko berkata, “Bagi kami, ini adalah salah satu cara untuk berterima kasih karena Anda telah menjaga diri Anda dan Anda masih bisa menjaga diri Anda sendiri selama tiga tahun kedepan hingga Anda mendapat gelar atau ijazah Anda.”

Pada awalnya, program ini diperkenalkan sebagai sebuah usaha untuk mengurangi angka kehamilan remaja, penyakit seksual menular dan eksploitasi.

Untuk mendapatkan beasiswa ini, anak-anak perempuan harus melalui sebuah ujian keperawanan yang tidak ilmiah sebagai bagian dari upacara tahunan yang diadakan oleh raja Zulu, Goodwill Zwelithini kaBhekuzulu.

Setelah melewati ujian tersebut, anak-anak ini akan menarikan tarian tradisional di istana raja Zulu.

Walaupun bermaksud baik, Komisi Kesetaraan Jender telah memutuskan beasiswa ini sebagai sebuah bentuk diskriminasi.

Mengecam keras beasiswa tersebut, komisi tersebut berkata bahwa  “Maiden Bursari Award” melawan etika dari ketentuan-ketentuan konstitusional yang berhubungan dengan harga diri, kesetaraan dan diskriminasi.

“Keperawanan tidak ada hubungannya dengan belajar,” pungkas mereka.


EditorShierine Wangsa Wibawa

Close Ads X