Baru Sadar Sakit Jantung Setelah Serangan Jantung Ketiga

Kompas.com - 23/09/2016, 16:00 WIB
Dian Maharani/Kompas.com Pasien jantung Oenedo Gumarang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Serangan jantung sering kali tidak disadari dan dianggap penyakit biasa. Seperti yang dialami Oenedo Gumarang atau yang akrab disapa Edo pada tiga tahun lalu.

Hari itu, saat sedang asyik bernyanyi dan berkumpul dengan teman-temannya, tiba-tiba Edo merasa nyeri di perut, seperti sakit mag. Perut terasa panas yang menjalar hingga ke dada. Ia juga berkeringat.

Saat itu, Edo yang sudah menginjak usia 57 tahun itu tak mengkhawatirkan apapun. Ia merasa tenang saja, istirahat, dan minum air putih serta menegak obat mag. Namun, rasa nyeri dan panas di perut itu tak kunjung hilang.

Edo akhirnya lebih cepat pulang ke rumah malam itu dan memilih untuk tidak pergi ke dokter untuk memeriksakan masalah kesehatannya.

Hingga akhirnya, rasa nyeri tak tertahankan lagi dan telah mengganggu tidurnya. Sekitar pukul 04.00 pagi, Edo pun pergi ke dokter. Tak disangka, saat periksa ke rumah sakit, dokter menyatakan Edo sakit jantung. Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

"Ketika sampai di rumah sakit, direkam detak jantungnya, dikateterisasi, ternyata di dalamnya itu (pembuluh darah jantung) sudah banyak sumbatan. Akhirnya dikatakan dokter harus operasi," kata Edo menceritakan pengalamannya dalam acara media briefing Peringatan Hari Jantung Nasional di Jakarta, Kamis (22/9/2016).

Beberapa hari kemudian, Edo menjalani operasi untuk melebarkan pembuluh darahnya yang tersumbat. Ternyata, saat operasi itu baru diketahui Edo sebenarnya sudah mengalami serangan jantung yang ketiga kalinya.

"Serangan pertama, kedua, kadang kita enggak tahu, enggak sadar sakitnya. Hati-hati teman yang merokok, kolesterol tinggi, kita kadang-kadang enggak merasa itu sakit jantung," jelas Edo yang juga seorang dokter sekaligus seniman.

Masalah Edo ternyata bukan hanya penyakit jantung koroner, pada serangan yang ketiga, irama jantungnya ternyata juga bermasalah. Edo memutuskan memasang alat untuk memperbaiki irama jantungnya dengan biaya sekitar Rp 400 juta.

Edo menyadari, sakit sangat mahal. Ia pun merasa kesakitan yang luar biasa karena operasi. Setelah operasi, berat badannya turun menjadi 65 kilogram, dari 84 kilogram.

Edo juga mengakui, sebagai seorang dokter ternyata bukan jaminan ia lebih peka terhadap gejala serangan jantung. Ia menyesal selama ini tak menjalani gaya hidup sehat.

Dulu, ketika sambil mengerjakan karya seninya, Edo bisa menghabiskan 4 bungkus rokok. "Tetapi saya cuma hisap sedikit, lalu matikan di asbak. Jadi lebih banyak asbak yang merokok. Sekarang saya sama sekali sudah tidak merokok," cerita Edo.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorLusia Kus Anna
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X