Anjuran Olahraga yang Aman untuk Pasien Jantung

Kompas.com - 23/09/2016, 18:05 WIB
Shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Punya penyakit jantung bukan berarti tak boleh olahraga sama sekali. Olahraga tetap dianjurkan agar memiliki tubuh yang sehat dan bugar. Namun, bagi pasien jantung tidak disarankan memilih olahraga yang terlalu berat.

Nah, agar tetap bisa berolahraga tanpa membahayakan kesehatan jantung, yang terpenting adalah selalu memantau denyut jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ismoyo Sunu mengungkapkan, untuk mengetahui denyut jantung yang aman saat berolahraga, rumusnya adalah 220 dikurangi usia pasien.

"Jadi 80 persen dari hasil yang dihitung itu adalah tanda nadinya sudah maksimal," papar Ismoyo.

Misalnya, usia Anda 40 tahun. Maka 220 dikurangi 40 hasilnya adalah 180. Kemudian 80 persen dari 180 adalah 144 atau artinya denyut nadi maksimal 144 kali per menit.

Jadi saat olahraga sebaiknya menggunakan alat monitor denyut jantung. Bisa juga dengan mengecek nadi di pergelangan tangan sebelum dan setelah olahraga.

Jika denyut nadi sudah mendekati 144 kali per menit, seharusnya mulai mengurangi intensitas olahraga dan beristirahat.

Ismoyo menjelaskan, olahraga memicu peningkatan tekanan darah. Pada pasien jantung, hal ini harus diwaspadai. "Olahraga punya batas toleransi. Pada pasien jantung olahraga sebaiknya yang terarah, terukur, dan teratur," kata Ismoyo.

Selain itu, disarankan untuk olahraga yang bersifat aerobik, seperti jalan kaki, lari, yoga, dan bersepeda santai yang dapat memicu pelepasan hormon endorfin. Bukan olahraga yang kompetitif seperti sepakbola, bulu tangkis, dan basket yang memicu hormon adrenalin dan justru bisa memperberat kerja jantung.

Olahraga bisa dilakukan rutin selama 30 menit dalam 3-5 kali seminggu. Tentunya, semua disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.


EditorBestari Kumala Dewi

Close Ads X