Dulu, Kain Batik Berfungsi untuk Penutup Betis Wanita Jawa

Kompas.com - 04/10/2016, 08:00 WIB
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Batik hasil karya warga sanggar Rumah Batik Palbatu, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (2/10/2015). Memperingati Hari Batik Nasional, warga Palbatu mengadakan acara membatik sekampung dan membuat mural batik di dinding.

KOMPAS.com – Kain batik merupakan salah satu wastra nusantara yang terus lestari seiring perkembangan zaman.

Para perancang busana asal Indonesia mendukung kehadiran batik dengan merilis sejumlah koleksi yang mengombinasikan nuansa kuno dan modern.

Alhasil, terciptalah pilihan busana batik nan mengagumkan yang bisa Anda pilih untuk dikenakan dalam keseharian atau acara formal.

“Untuk wanita, batik membuat dia cantik karena saya percaya banget  batik dibuat oleh leluhur untuk busana yang pas dengan tradisi dan alam Indonesia, apalagi kalau datang ke pesta pakai batik,” jelas Dwi Woro Retno Mastuti, seorang dosen dan peneliti di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, kepada Kompas.com saat ditemui beberapa waktu lalu di Depok, Jawa Barat.

Woro melanjutkan bahwa sebenarnya pada zaman dahulu nenek moyang sudah mengajarkan agar wanita menjaga kehormatan diri dengan mengenakan kain panjang.

Sebab, dulu wanita Jawa tidak boleh memperlihatkan betisnya. Oleh karena itu, mereka menutupi kaki dengan kain batik panjang.

Woro menuturkan sebuah peribahasa kuno, yaitu gebyaring wentis kuning. Artinya, wanita janganlah menunjukkan betismu. 

Namun, seiring perkembangan zaman, pilihan busana sopan untuk wanita semakin variatif dan praktis, salah satunya rok panjang.  Kemudian, terciptalah sejumlah kain batik yang diproduksi menjadi rok untuk melindungi penampakan kaki wanita di ruang publik.

Kaki dan betis wanita, kata Woro, merupakan bagian dari harga diri yang harus dijaga.

Wanita yang dihormati pada zaman dulu adalah mereka yang bisa menjaga diri dari godaan pria dengan cara menutupi betis menggunakan kain batik panjang dan dililitkan hingga dua kali agar rapat sempurnah. 

 


Editor Syafrina Syaaf

Close Ads X