Waspadai Demensia Digital karena Penggunaan Gawai - Kompas.com

Waspadai Demensia Digital karena Penggunaan Gawai

Kompas.com - 14/10/2016, 11:00 WIB
Thinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Di era digital seperti sekarang, gawai memang menjadi godaan yang sangat besar. Membelenggu tenaga dan pikiran. Kadang, tanpa disadari kita menghabiskan waktu berjam-jam tanpa beranjak dan lupa berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Keajaiban dunia modern memang banyak membantu dalam kehidupan sehari-hari, tapi pada saat yang sama juag membawa risiko.

Dr.Gary Small, profesor psikiatri dari UCLA Semel Institute Amerika Serikat, mengingatkan efek negatif penggunaan gawai yang berlebihan. Salah satunya adalah sebuah fenomena yang disebut demensia digital.

"Demensia digital ini menggambarkan adanya dampak negatif pada mental. Bukan sama persis seperti pada penyakit usia lanjut, tapi istilahnya digunakan untuk menggambarkan parahnya permasalahan yang ada," katanya dalam konferensi pers Wellness Tour 2016 yang diadakan oleh Herbalife di Tangerang (10/10/2016).

Seperti halnya pada pasien demensia yang kemampuan kognitifnya terganggu sehingga daya ingat mereka juga memudar, demikian juga pada orang yang terlalu mesra dengan perangkat gawainya.

Gary menyebutkan hasil penelitian terhadap karyawan kantoran di Taiwan yang diadakan oleh Herbalife. Penggunaan berlebihan pada teknologi terbukti menurunkan kemampuan mengingat.

"Interaksi kita dengan layar juga berkorelasi dengan tingkat pemusatan perhatian," ujar peneliti bidang kesehatan otak dan Alzheimer ini.

Sementara itu, pada generasi milenial atau mereka yang lahir di tahun 1990-an juga tampak efek negatifnya. "Padahal generasi ini dianggap sebagai digital native karena sangat cakap memanfaatkan teknologi. Tapi mereka selalu online sehingga lupa cara berkomunikasi secara langsung atau tatap muka. Mereka tidak bisa mengenali isyarat-isyarat yang sifatnya nonverbal," paparnya.

Penggunaan video games dalam waktu yang lama pada anak-anak juga menghambat kemampuan anak memiliki kecerdasan emosional dan sosial. Dalam sebuah pengamatan, bila penggunaan itu dibatasi, kecerdasan emosional anak bisa meningkat pesat.

Tak bisa dipungkiri bahwa penggunaan gawai dalam durasi yang wajar bisa berdampak positif.

"Ada beberapa studi yang menunjukkan dampak positif pada aktivitas otak, asal tidak berlebihan. Bahkan, pada kelompok dokter bedah saat mereka memainkan video games, tingkat error saat bekerja di ruang operasi menjadi lebih kecil," katanya.

Menurut Gary, walau belum ada durasi yang dianggap ideal untuk memakai gawai, tetapi ia menyarankan agar mengambil jeda setiap dua jam.

"Waktu untuk jeda berbeda, tergantung tiap orang. Ada yang baru merasa perlu jeda setelah merasa kelelahan dan leher tegang. Toleransi tiap orang berbeda-beda," katanya.

Ia juga menyarankan untuk memanfaatkan aplikasi sebagai pengingat kita melakukan jeda setiap 30 menit sekali. "Lakukan peregangan atau mungkin meditasi," ucapnya.

Prinsip yang sama juga bisa diterapkan pada anak-anak. Mereka juga perlu dibatasi interaksinya dengan gawai. "Kalau lama-lama anak jadi mudah marah, susah berteman, mungkin itu tandanya teknologi sudah memengaruhi perilaku mereka," katanya.


EditorLusia Kus Anna

Close Ads X