Cerita Asal-Usul Batik Lasem

Kompas.com - 29/10/2016, 11:35 WIB
Membatik TRIBUN JATENG/M SYOFRI KURNIAWANMembatik
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Salah satu pusat batik peranakan Tionghoa yang terkenal di Indonesia adalah Lasem. Walaupun kalah populer dari batik pekalongan, batik lasem memiliki keunikannya sendiri yang tidak bisa ditiru oleh daerah lain.

William Kwan, seorang dewan pakar di Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), membagikan cerita mengenai batik lasem di acara konferensi pers Kondangan Peranakan Tionghoa Indonesia 2016 yang diadakan di Casa Grande, Jakarta, Kamis (27/10/2016).

Menurut William, pada masa lalu, mayoritas penduduk kota Lasem adalah keluarga-keluarga Tionghoa yang juga pengusaha batik.

“Otomatis, motif dan warnanya sangat dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Kita bisa lihat motif-motif seperti burung hong (phoenix), naga atau liong, bunga teratai, bunga seruni, kelelawar, ikan mas, koin uang, dan lain-lain,” ucapnya.

Namun, Anda harus berhati-hati dalam mendefinisikan batik lasem sebagai batik peranakan Tionghoa. Sebab, batik lasem tidak hanya dipengaruhi oleh budaya Tionghoa.

Oleh karena itu, William pun membagi batik lasem menjadi tiga macam, yaitu yang lebih dipengaruhi oleh budaya Tionghoa, yang lebih dipengaruhi oleh budaya Jawa, dan yang merupakan hybrid atau campuran keduanya (batik babagan).

Nah, salah satu aspek yang paling dikenal mengenai batik lasem adalah warna merahnya yang legendaris, abang getih pithik (merah darah ayam), yang terbuat dari akar buah mengkudu.

“Warna ini sangat dirahasiakan sehingga keluarga-keluarga Tionghoa hanya mewariskan kepada anaknya saja melalui sumpah,” ucapnya.

Sayangnya, di masa kini, warna tersebut telah tergantikan dengan warna sintetis karena sudah tidak ada yang tahu cara membuatnya menggunakan pewarna alami.

Lalu, walaupun sarat dengan budaya Tionghoa, batik lasem ini dulunya tidak hanya dipakai oleh wanita peranakan Tionghoa. Beberapa wanita yang tinggal di daerah pesisir utara Jawa juga mengenakannya.

Selain itu, batik lasem ini juga sangat popular di daerah Sumatera seperti Jambi, Minangkabau, Palembang, dan daerah-daerah lain.

Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa batik lasem ini juga diekspor ke Suriname, Thailand, Malaysia, dan Singapore yang pada waktu itu masih Semenanjung Malaka.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X