Pintar Berimajinasi, Anak Usia 5 Tahun Ini Ciptakan Kota Lewat Lego

Kompas.com - 23/12/2016, 16:05 WIB
M Hazel Javiero M Hazel Javiero
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com  -- M Hazel Javiero punya talenta yang unik. Anak usia lima tahun asal Bandung ini mampu merealisasikan seluruh imajinasinya dalam bentuk Lego, puzzle, dan blok.

Baginya, membuat velociraptor, dinosaurus kesukaannya, menggunakan mainan blok adalah hal yang mudah. Dia bahkan pernah membuat miniatur kota yang terinspirasi dari Jakarta.

Berkat talentanya ini, Hazel pun terpilih menjadi salah satu peserta perjalanan edukatif dari Nutrilon Royal, Nutrilon Royal One Step Ahead Camp Asia di Singapura.

Ingin mengetahui lebih lanjut, Kompas.com pun mewawancarai ibu Hazel, Paramita Auliasari, di Stamford American International School, Singapura pada hari Selasa (20/12/2016) mengenai cara mendidiknya sebagai ibu yang selangkah lebih maju (one step ahead mom).

M Hazel Javiero bersama ibu, Paramita Auliasari.

Dia bercerita bahwa putranya memang sudah menyukai permainan puzzle sejak usia dua tahun, tetapi kemudian lebih mengarah kepada Lego sebagai medium untuk berkreasi.

Tidak hanya Paramita, guru Hazel pun terkejut melihat kemampuan Hazel membuat berbagai hal menggunakan Lego tanpa perlu diajari. Selain itu, mereka juga menyadari efek positif dari bermain Lego pada Hazel.

“Tadinya, Hazel itu kan anak yang sangat aktif dan selalu bergerak ke sana ke mari, tetapi dengan bermain Lego itu dia menjadi lebih fokus, tidak hanya dalam bermain tetapi juga belajar,” cerita Paramita.

Dari sinilah, Paramita dan suaminya menjadi bersemangat untuk memupuk bakat Hazel. Tanpa memaksa, dia melatih Hazel dengan lebih sering membelikannya Lego dan membiarkannya bermain.

Paramita juga membatasi intervensinya menjadi sekadar memberi masukan saja. “Malah kadang kalau saya bikinin (Lego), dia marah, jadi dia maunya sendiri begitu,” ucapnya.

M Hazel Javiero

Di samping permainan Lego, puzzle, dan blok, Paramita juga berusaha untuk menambah pengetahuan Hazel dengan cara yang menyenangkan seperti membelikan putranya buku-buku ensiklopedia.

Berkat pola pengasuhan yang positif ini, Hazel tidak memiliki ketergantungan terhadap gadget. “Daripada gadget, Hazel lebih suka menggambar, mewarnai, dan menyusun Lego. Dia justru tidak tertarik untuk bermain gadget,” kata Paramita.

Menurut dia, bila orangtua mengarahkan anak untuk berolahraga dan bermain hal yang lain, dan mampu menjaga diri untuk menjadi contoh dengan tidak bermain gadget di depan anak, maka anak juga tidak akan tergantung pada gadget.

“Ya, saya kasih dia menonton kartun atau video di gadget padaakhir minggu saja, tetapi dia tidak tergantung pada gadget,” ujarnya.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X