Okky Madasari: Rumah Laboratorium Sastraku

Kompas.com - 18/02/2017, 16:31 WIB
KOMPAS/RIZA FATHONI Rumah Okky Madasari

JAKARTA, KOMPAS - Penulis Okky Madasari (32), peraih termuda Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2012 untuk novelnya berjudul Maryam, menjadikan rumah tak sekadar sarang tinggal.

Rumah yang dijuluki sebagai “Rumah Muara” ini sekaligus menjadi wadah pengenalan sastra sejak dini. 

“Ini laboratorium saya untuk menyebarkan nilai kesusastraan sejak kecil. Bisa sebar nilai tentang kebebasan dan kemanusiaan,” kata Okky.

Pagi di rumah di Jalan Muara, Kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan ini selalu dihuni celoteh anak-anak yang menghidupkan bangunan mungil di sudut rumah yang disulap menjadi Taman Kanak-kanak.

Jika rumah utama sunyi hanya dihuni Okky, suaminya Abdul Khalik (39) dan anak semata wayangnya Mata Diraya (2), TK riuh oleh lebih 30 anak dengan nyanyian hingga teriak riang.

Anak-anak menyanyi lalu bermain petak umpet di samping dinding sekolah bergambar mural wajah para sastrawan pada Kamis (16/2/2017) pagi.

Di tembok itu, tertuang mural wajah Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, Kartini, Chairil Anwar, dan Rendra.

“Lima tokoh ini menginspirasi saya sebagai novelis. Karya-karya mereka bisa menangkap persoalan zaman dan menyuarakannya. Mereka yakin sastra harus memperjuangkan keadilan dan nilai kemanusiaan,” tambahnya.

Selain Maryam yang berkisah tentang mereka yang terusir karena iman, novel lainnya karya Okky juga meraih lima besar di ajang Khatulistiwa Literary Award.

Mendirikan Asean Literary Festival dan Yayasan Muara, ia juga menjadi produser eksekutif untuk film Istirahatlah Kata-kata yang berkisah seputar kehidupan penyair Wiji Tukul. Okky juga sedang menyiapkan film Dua Pengantin berdasar cerita pendek karyanya yang pernah dimuat harian Kompas.

Tak hanya lewat mural, kecintaan pada karya Rendra diwujudkan dengan menorehkan puisinya di dinding sekolah: “Kesadaran adalah Matahari. Kesabaran adalah Bumi. Keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata...”

“Novelku realis. Banyak menggunakan fakta, tetap bercampur imajinasi. Karya bagi aku benar-benar pernyataan sikap atas pemikiran atas gagasan,” ujarnya.

Menulis pula yang kini mengisi hari-hari Okky. Setiap sudut di rumah yang mulai ditempati sejak 2010 ini didedikasikan untuk sastra.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAmir Sodikin

Close Ads X