Deteksi Retinoblastoma, Anak Harus Rutin Cek Mata - Kompas.com

Deteksi Retinoblastoma, Anak Harus Rutin Cek Mata

Kompas.com - 21/02/2017, 09:03 WIB
Ilustrasi periksa mata anak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Retinoblastoma atau kanker bola mata merupakan satu-satunya jenis kanker pada anak yang bisa dideteksi dini. Deteksi dini bahkan bisa dilakukan di Puskesmas yang sudah memiliki alat deteksi retinoblastoma bernama ophtalmoscope.

Dr. Edi S Tehuteru, SpA (K) mengatakan, untuk deteksi dini retinoblastoma, anak perlu rutin cek mata sampai usia 5 tahun. Sebab, retinoblastoma hanya menyerang anak di bawah usia 5 tahun.

"Di atas usia 5 tahun enggak ada apa-apa saat diiperiksa, dia bisa terbebas dari kanker bola mata," kata Edi dalam diskusi media di Jakarta, Senin (20/2/2017).

Edi mengatakan, retinoblastoma bisa dipengaruhi oleh faktor genetik. Apabila orangtua memiliki riwayat retinoblastoma, maka anak sejak lahir sudah harus diperiksa matanya.

Begitu pula jika memiliki anak yang terkena retinoblastoma, maka kelahiran anak berikutnya harus dilakukan pemeriksaan mata secara rutin sampai usia 5 tahun.

Edi menuturkan, rutin cek mata sejak lahir sangat penting agar jika terkena retinoblastoma bisa diketahui lebih awal.

Pengobatan retinoblastoma yang ditemukan pada stadium awal memiliki tingkat kesembuhan mencapai 80 persen. Bahkan, pada stadium sangat awal bisa ditangani dengan krioterapi saja. Jadi anak tak perlu menjalani kemoterapi, radioterapi, ataupun operasi.

Bila ukuran tumor sudah besar, perlu pengangkatan bola mata. Setelah itu, anak akan menggunakan bola mata palsu. Pada stadium lanjut, kanker pada mata anak bisa menyebar ke otak hingga tulang belakang.

"Ada beberapa kasus yang harus diangkat kelopaknya juga karena sudah menyebar ke mana- mana," lanjut Edi.

Deteksi dini dengan ophtalmoscope
Pemeriksaan mata dengan ophtalmoscope sangat sederhana. Ophtalmoscope seperti senter yang akan menyorot mata anak.

Dari alat tersebut, tenaga kesehatan bisa melihat apakah ada pantulan sinar merah di mata atau dikenal dengan pemeriksaan "lihat merah". Jika terlihat pantulan merah di mata, maka mata anak sehat.

Sebaliknya, jika tidak ada sinar merah di mata, maka perlu diwaspadai adanya tumor di mata dan segera lakukan pemeriksaan menyeluruh pada mata anak.

Untuk itu, alat ophtalmoscope diharapkan ada di setiap puskesmas di seluruh Indonesia. Apalagi, retinoblastoma merupakan kanker anak yang tertinggi kedua, setelah kanker darah atau leukemia. 

Dengan ditemukannya retinoblastoma sedini mungkin, mata dan penglihatan anak bisa diselamatkan.

"Kita, kan enggak hanya ingin menyelamatkan nyawanya, tapi juga penglihatannya," ucap Edi.


EditorBestari Kumala Dewi
Komentar
Close Ads X