Angkie Yudistia Menembus Keterbatasan Stigma Tunarungu

Kompas.com - 04/03/2017, 12:00 WIB
Angkie Yudistia Dian Maharani/Kompas.comAngkie Yudistia
|
EditorLusia Kus Anna

JAKARTA, KOMPAS.com — Di tengah pembicaraan, Angkie Yudistia tiba-tiba melepaskan sesuatu dari balik telinga kiri dan kanannya. Wanita kelahiran Medan, 5 Juni 1987, itu ternyata ingin memperlihatkan alat bantu dengar yang sudah bertahun-tahun melekat di balik kedua telinganya.

Dengan bangga, Angkie ingin menunjukkan ia adalah wanita dengan disabilitas tuli. Butuh waktu 10 tahun bagi Angkie untuk akhirnya bisa kembali percaya diri, seperti saat ditemui di Ruang Maharmardjono, Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, Rabu (1/3/2017).

Finalis Abang None Jakarta Barat tahun 2008 ini mengalami ketulian sejak usia 10 tahun. Konsumsi antibiotik berlebihan saat sakit malaria perlahan telah merusak pendengarannya.

"Awalnya aku enggak tahu (ada gangguan pendengaran) sampai lingkungan sekitar bilang sudah manggil-manggil, tetapi aku enggak dengar, enggak nengok," cerita Angkie.

Angkie kemudian dibawa orangtuanya secara rutin untuk periksa masalah pendengaran. Setiap kali melakukan pemeriksaan enam bulan sekali, hasilnya selalu buruk. Fungsi pendengaran Angkie terus menurun. Ia juga sempat mengalami tinitus atau telinga berdengung saat SMP.

Berbagai pengobatan telah ia jalani, tetapi tak bisa mengembalikan pendengarannya seperti semula. Angkie akhirnya menggunakan alat bantu dengar.

"Waktu itu pakai alat bantu dengar bukan perkara mudah, susah dan malu banget. Orang pikir itu apa sih di belakang telinga. Karena kalau kita berpikir sesuatu yang sempurna, kalau ada yang enggak sempurna itu jadi di-bully," tutur Angkie.

Mengalami keterbatasan pendengaran saat remaja adalah masa sulit bagi Angkie. Ia kerap merasa tertekan dan kurang percaya diri. Meski demikian, penulis buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas ini tak pernah patah semangat untuk mengenyam pendidikan.

Lulus dari SMAN 2 Bogor, Angkie melanjutkan kuliah jurusan Ilmu Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta. Saat kuliah, perlahan Angkie bisa menerima keterbatasan yang dimilikinya. Ia banyak belajar kata-kata dengan membaca buku.

"Dosenku bilang, kamu jujur sama diri kamu sendiri. Kalau kamu sudah jujur sama diri sendiri dan jujur sama orang lain, orang lain akan mengapresiasi kejujuran kita. Jadi benar, ketika aku jujur, mereka jadi sangat bantu," ucap Angkie.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X