5 Faktor yang Meningkatkan Risiko Saraf Kejepit

Kompas.com - 08/03/2017, 10:15 WIB
nyeri punggung Ilustrasi

KOMPAS.com - Masih banyak orang yang menganggap sepele nyeri pinggang. Meski tak selalu penyebab nyeri pinggang adalah saraf kejepit, tetap perlu ditemukan penyebabnya. Pasalnya, nyeri pinggang yang tak teratasi bisa mengganggu kualitas hidup.

Saraf kejepit merupakan bagian dari nyeri punggung bawah atau low back pain. Rasa nyeri terasa tajam, berpangkal pada bagian bawah pinggang dan menjalar ke lipatan bokong.

Selanjutnya, nyeri menjalar ke lipatan lutut. Bahkan, jika kondisi sudah parah refleks akan melemah dan menyebabkan lumpuh.

Dokter Muki Partono, Sp. OT dari Rumah Sakit Pondok Indah Group mengungkapkan, ciri lain dari saraf kejepit adalah nyeri pinggang yang terasa semakin tajam saat duduk, membungkuk, batuk, ataupun meregangkan badan.

Saraf kejepit terjadi akibat tekanan di bagian saraf, terutama di bagian pinggang atau leher. Tekanan inilah menyebabkan penonjolan inti dari diskusi yang menjadi bantalan tulang sehingga menekan saraf. Ada lima faktor yang bisa menyebabkan hal ini terjadi:

1. Berat badan berlebih, gaya hidup bermalas-malasan, sedikit bergerak, dan postur ubuh tidak diposisikan secara benar.

2. Perubahan degeneratif yang mengurangi kekuatan dan stabilitas tulang belakang, sehingga tulang belakang rentan cedera. Untuk memperlambat proses degeneratif ini, perbanyak konsumsi protein dan penuhi kebutuhan cairan.

3. Teknik mengangkat dan memindahkan barang yang tidak benar.

4. Pergerakan tiba-tiba dan bertenaga, yang memindahkan gaya dalam jumlah besar ke tulang belakang.

5. Olahraga dengan gerakan berputar pada tulang belakang seoerti golf, baseball atau tenis.


“Faktor risiko ini akan meningkat mulai usia 33 tahun. Karena itu, sebelum terjadi, biasakan olahraga, jaga berat badan ideal, jaga posisi tidur, dan cukup minum. Kurang cairan akan menyebabkan perubahan tekanan dalam diskus, akibatnya ketidakstabilan mekanik,” jelas dr Muki saat temu media di Jakarta (7/3).

Dokter Muki menabahkan, untuk olahraga pun harus dipilih sesuai dengan anatomi tubuh. Olahraga lari tentu bukan pilihan bagi orang dengan kelebihan berat badan, karena justru bisa menyebabkan cedera. Berjalan dan berenang lebih aman dilakukan.



EditorBestari Kumala Dewi

Terkini Lainnya

Mencoba Peralatan Olahraga Langsung dan Virtual di Decathlon MTA

Mencoba Peralatan Olahraga Langsung dan Virtual di Decathlon MTA

Feel Good
Tren Donasi Online untuk Pasien Penyakit Berat

Tren Donasi Online untuk Pasien Penyakit Berat

Feel Good
Bahaya Diet dengan Cara yang Keliru

Bahaya Diet dengan Cara yang Keliru

Eat Good
Aleza Pamer Koleksi Hari Raya dengan Modifikasi Ikat dan Batik

Aleza Pamer Koleksi Hari Raya dengan Modifikasi Ikat dan Batik

Look Good
Jennifer Bachdim Pantang Konsumsi Daging

Jennifer Bachdim Pantang Konsumsi Daging

Look Good
Waktu Makan Ternyata Pengaruhi Kesehatan

Waktu Makan Ternyata Pengaruhi Kesehatan

Eat Good
Menyambut Pagi Istimewa di Candi Borobudur

Menyambut Pagi Istimewa di Candi Borobudur

Feel Good
Diskon G-Shock Carbon untuk Pembaca Kompas.com, Mau?

Diskon G-Shock Carbon untuk Pembaca Kompas.com, Mau?

Look Good
Menata Alat Makan ala Marie Kondo

Menata Alat Makan ala Marie Kondo

Look Good
Kebiasaan Sederhana untuk Cegah Diabetes Tipe 2

Kebiasaan Sederhana untuk Cegah Diabetes Tipe 2

Feel Good
Nike Tampilkan Model Wanita dengan Rambut Ketiak

Nike Tampilkan Model Wanita dengan Rambut Ketiak

Look Good
Jenis Olahraga yang Aman di Masa Kehamilan

Jenis Olahraga yang Aman di Masa Kehamilan

Feel Good
'Sahara Breeze' dan Ragam Menu Berbuka Puasa di Pullman Jakarta

"Sahara Breeze" dan Ragam Menu Berbuka Puasa di Pullman Jakarta

Eat Good
Mengenal Kandungan dan Fungsi 5 Acid dalam Produk 'Skincare'

Mengenal Kandungan dan Fungsi 5 Acid dalam Produk "Skincare"

Look Good
Mencegah Bibir Kering di Udara Dingin

Mencegah Bibir Kering di Udara Dingin

Look Good

Close Ads X