Kompas.com - 31/03/2017, 14:15 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Ketua PDSKJI DKI Jakarta Nova Riyanti Yusuf mengatakan, sejumlah profesi terkait kreativitas kadang dianggap butuh episode mania. Contohnya, pelukis, penulis, dan artis. Episode mania pada orang dengan bipolar berprofesi pelukis, misalnya, bisa untuk merampungkan karya.

"Ada pasien bipolar marah dan menolak minum obat saat mania. Ia butuh episode mania demi menuntaskan pekerjaan sebagai pelukis," ujarnya.

Namun, menurut Agung, munculnya episode mania atau depresi pada profesi tertentu tidak terjadi begitu saja. Episode itu bisa terjadi pada orang yang telah punya gangguan bipolar. Secara epidemiologi, gangguan bipolar banyak terjadi pada kelompok pendidikan, sosial, dan ekonomi menengah ke atas dan ada riwayat keluarga 60-65 persen.

Nova menambahkan, peristiwa politik seperti pemilihan umum bisa memicu gangguan jiwa. Gangguan itu bisa berupa stres setelah pemilihan.

Budi Putra, penderita gangguan bipolar, mengatakan, saat episode mania berlangsung, seseorang dengan gangguan bipolar hanya perlu didengarkan. Jika ia mengeluarkan banyak ide, tidak perlu direspons serius karena belum tentu gagasan itu benar.

Hal yang sama juga berlaku saat episode depresi terjadi. Umumnya orang akan bertanya dan menasihati orang dengan gangguan bipolar saat mengalami depresi. Padahal, itu tak perlu dilakukan. Episode depresi yang terjadi justru bisa makin parah kalau orang sekitar menasihati.

Pada orang dengan gangguan bipolar di perkotaan, episode mania atau depresi bisa dipicu gaya hidup yang negatif. Contohnya, mengonsumsi alkohol, lebih senang menyendiri, atau menilai sesuatu dari materi dan angka.

Kepala Bidang Rehabilitasi Medis Badan Narkotika Nasional (BNN) Iman Firmansyah menambahkan, kecenderungan orang dengan gangguan bipolar menyalahgunakan zat psikotropika lebih besar dibandingkan orang dengan gangguan jiwa lain.
Prevalensi gangguan bipolar dengan penyalahgunaan zat selama kehidupan berkisar 40-60 persen. Sebaliknya, penyalahgunaan zat juga bisa memicu gangguan bipolar. (ADH)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Maret 2017, di halaman 14 dengan judul "Waspadai Gangguan Bipolar".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.