Kompas.com - 17/04/2017, 12:37 WIB
Bungy Jumping di Sungai Waikato, Taupo, Selandia Baru. Dok. Taupo BungyBungy Jumping di Sungai Waikato, Taupo, Selandia Baru.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Pernahkah Anda mengalami gelombang energi yang besar saat menghadapi sesuatu yang mendebarkan atau berbahaya? Inilah yang terjadi di dalam tubuh ketika hormon adrenalin kita memuncak.

Lonjakan adrenalin adalah aktivitasi yang intens pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh dilepaskannya hormon adrenalin oleh kelenjar adrenal.

Ketika adrenalin meningkat pesat, hal-hal yang menakjubkan bisa saja terjadi. Misalnya saja ada yang mampu mengangkat mobil untuk menyelamatkan korban yang terjepit di bawahnya padahal orang tersebut bertubuh kurus.

Menurut Dr.Marla W.Deibler, lonjakan adrenalin dipicu oleh sesuatu yang kita anggap sebagai ancaman. Namun, hal itu tidak selalu berarti situasi yang menakutkan. Bisa saja situasi tersebut berupa hal yang menakutkan, membuat stres, atau membuat kita sangat senang.

"Saat kita menghadapi stressor, otak akan menilai situasi tersebut. Jika otak menafsirkannya sebagai ancaman, sistem saraf pusat simpatik akan diaktifkan," kata Deibler.

Sebagai contoh, saat kita sedang berjalan-jalan di kompleks rumah dan mendadak ada anjing menggonggong kencang, bagian hipotalamus otak akan menghidupkan alaram di tubuh.

Alarm tersebut seketika memacu kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal, untuk melepaskan set hormon seperti adrenalin, noradrenalin, dan kortisol.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Efek dari hormon-hormon tersebut akan dirasakan di seluruh tubuh, termasuk otak. Hal ini disebut juga dengan respon melawan atau tinggalkan (fight or flight).

"Pada dasarnya tujuan dari respon itu adalah menyiapkan tubuh dan pikiran untuk melawan atau melarikan diri dari bahaya itu," katanya.

Saat hormon-hormon itu meningkat, tubuh juga akan kehilangan sensasi sakit lokal. Misalnya saja jika saat itu Anda mengalami patah tulang, Anda tak akan langsung merasakan sakitnya karena tubuh melindungi kita dari rasa nyerinya.

Peningkatan kemampuan indera juga menjadi tanda lonjakan adrenalin, sehingga bisa saja energi kita naik berkali lipat, karena tubuh melepaskan glukosa dan gula langsung ke peredaran darah.

Ketika apa yang kita anggap sebagai bahaya itu mereda, tubuh akan kembali ke fungsi normalnya.

Respon flight or fight tetap akan melakukan tugasnya untuk melindungi kita, bahkan jika itu bukanlah ancaman nyata. Contohnya tubuh akan mengeluarkan reaksi ini saat kita sedang menyeberang jalan dan mendadak ada mobil melaju kencang, atau saat kita diminta memberi pidato di depan banyak orang.

Selama kita menganggap situasi tersebut sebagai ancaman, reaksi tubuh tetap sama seperti saat ada lonjakan adrenalin.

"Tubuh tidak bisa membedakan ancaman nyata dan sesuatu yang tidak berbahaya. Responnya akan sama. Jika kita tidak membutuhkan reaksi itu, sebenarnya akan mengganggu," kata Deibler.

Hal itu terjadi karena tubuh dan pikiran memang saling terhubung. "Ketika tubuh menilai dan mengartikan sebuah situasi, pengaruhnya tidak hanya pada otak tapi juga emosi, perilaku, dan fisik," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.