Kompas.com - 26/04/2017, 22:11 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorBestari Kumala Dewi

KOMPAS.com - Data Riskesdas 2013 menunjukkan prevalensi berat badan kurang (underweight) masyarakat Indonesia cenderung naik dari 18,4% di tahun 2007 menjadi 19,6% pada 2013.

Bukan hanya itu, data penilaian status gizi di tahun 2015 menunjukkan angka 18,8% yang terdiri dari 3,9% gizi buruk dan 14,9% gizi kurang.

Kondisi ini tentu mengkhawatirkan. Pasalnya, berat badan kurang pada anak bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan hingga berbagai risiko penyakit, baik jangka pendek maupun di kemudian hari.

Berat badan kurang adalah salah satu masalah pertumbuhan yang mengacu pada berat badan dan umur.

Sehingga, anak bisa dikatakan berat abdan kurang jika berat badannya di abwah rata-rata anak seusianya dengan mengacu pada kurva pertumbuhan WHO.

Menurut Dr dr Ahmad Suryawan, SpA(K), dokter spesialis konsultan tumbuh kembang - pediatri sosial dari RS Dr Soetomo Surabaya, sangat penting melakukan pencegahan sebelum terjadi berat badan kurang pada anak.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua adalah memantau dan memonitor berat abdan anak setiap bulan. Dari sini kan bisa kelihatan, apakah kurvanya lebih tinggi atau lebih rendah dari normal,” ujarnya dalam diskusi media Waspada Berat Badan Kurang demi Masa Depan si Kecil di D.Lab by SMDV, Jakarta (26/4).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dokter yang akrab disapa wawan ini menambahkan, sangat penting memonitor berat badan secara rutin pada dua tahun pertama kehidupan anak. Karena di masa inilah fase tumbuh kembang anak berkembang optimal.

Anak yang mengalami berat badan kurang berisiko mengalami masalah tumbuh kembang, baik perkembangan otak, pertumbuhan fisik, hingga organ metabolik yang berdampak bagi masa depannya.

“Hati-hati, kalau anak kekurangan berat badan di bawah usia dua tahun dan tak ditangani dengan baik, bisa berpengaruh ke masa depannya,” jelas dr Wawan.

Pada kesempatan yang sama, dr Yoga Devaera Sp.A(K), spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik mengungkapkan, bahwa kasus berat badan kurang pada anak bisa disebabkan oleh beragam faktor yang memengaruhi sejak di dalam kandungan hingga setelah dilahirkan.

“Secara langsung berat badan kurang bisa disebabkan karena asupan nutrisi, aktivitas disik, gangguan metabolik, pengaruh genetik, hingga faktor lingkungan dan sosio ekonomi,” jelasnya.

Karena itu, Dr wawan menegaskan pentingnya orangtua aktif berkunjung ke Posyandu, Puskesmas, klinik khusus ibu dn anak hingga rumah sakit untuk memantau berat badan dan tinggi badan anak bersama petugas kesehatan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.