Kompas.com - 04/05/2017, 17:03 WIB
Nike Zoom Vaporfly Elite NikeNike Zoom Vaporfly Elite
Penulis Wisnubrata
|
EditorWisnubrata

Desember lalu Nike mengumumkan sebuah rencana untuk memecahkan rekor lari marathon yang disebut sebagai inisiatif Breaking2. Tidak sekedar memecahkan rekor, namun catatan baru itu diharapkan tercapai dalam waktu kurang dari 2 jam, sesuai nama inisiatifnya.

Hingga saat ini tidak ada seorang pun yang pernah menyelesaikan marathon dengan waktu di bawah 2 jam. Karenanya rencana itu oleh sebagian orang dianggap sebagai usaha untuk melampaui kemampuan manusia, sehingga muncul pertanyaan: Bagaimana melakukannya?

Hal pertama yang harus dipikirkan adalah soal lokasi. Tempat berlari ini akan sangat menentukan tercapai atau tidaknya misi. Namun perlu dipertimbangkan juga bahwa lokasi ini mestinya menyerupai jalur marathon sebenarnya. Lokasi yang medannya menurun misalnya, mungkin akan memunculkan kritik dan berakibat pemecahan rekor itu diragukan.

Mempertimbangkan hal-hal seperti karakteristik medan, ketinggian, temperatur, serta tekanan udara, maka Breaking2 akan dilakukan pada hari Sabtu 6 Mei 2017 pukul 5.45 pagi di jalur balap sepanjang 2,4 kilometer di Autodromo Nazionale Monza di Italia. Menurut Nike, jalur itu pas untuk meniru lintasan marathon sesungguhnya.

Dengan cara demikian Nike berharap bisa menguji teknologi yang digunakan pada sepatunya, untuk kemudian diterapkan pada sepatu-sepatu lari lain sehingga kita pun memiliki kesempatan untuk mencetak rekor kita sendiri, entah itu mencapai finish di bawah 4 jam pada lari marathon, atau 20 menit pada lari 5K.

Lalu apakah teknologi yang dimaksud itu? Tentu saja sepatu larinya: Nike Zoom Vaporfly Elite. Sepatu yang akan dikenakan tiga pelari yakni Eliud Kipchoge, Zersenay Tadese, Lelisa Desisa itu dilengkapi sejumlah teknologi baru yang meskipun nampak kecil namun diklaim bisa mengubah jalannya permainan.

Nike Desain Nike Zoom Vaporfly Elite
Vaporfly Elite dilengkapi teknologi bantalan busa ZoomX super ringan yang tidak lazim ditemui pada sepatu para atlet lari pada umumnya. Bantalan itu setinggi 21 mm di bagian depan dan membesar hingga 30mm ke belakang, dengan offset 9mm — spesifikasi yang biasanya ditemukan pada sepatu lari casual, bukan lari jarak jauh.

Menurut keyakinan yang ada, sepatu lari jarak jauh mestinya berbobot ringan sehingga tidak terlalu tebal. Namun bentuk bantalan tipis memiliki kekurangan karena pengembalian energinya tidak maksimal. Nah pada sepatu ini, para pelari akan mendapatkan keduanya, bantalan empuk dan pengembalian energi yang besar.

Menurut Runner's World, sepatu itu mengembalikan 85 persen energi saat pelari menjejakkan kakinya. Sejauh ini rekor pengembalian energi dipegang lapisan busa Boost yang digunakan oleh Adidas, yang menurut uji coba Runner's World mencapai 70 persen.

Nike Nike Zoom Vaporfly Elite
Sepatu uji ini juga dilengkapi plat serat karbon di bagian depan yang menambah tolakan energi sekaligus mengurangi kelelahan otot betis. Plat juga akan membuat sepatu ini kaku, yang menurut Nike berguna untuk mendorong pelari ke depan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.