Kompas.com - 11/05/2017, 08:00 WIB
|
EditorWisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak memiliki hak untuk bermain. Hak itu terintegrasi dengan hak asasi manusia yang dimiliki anak.

"Hak bermain itu berguna agar anak bisa tumbuh anak dengan baik," kata Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait kepada Kompas Lifestyle di Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017).

Bermain merupakan bagian dari interaksi yang anak-anak rasakan. Interaksi mulai dari teman sebaya hingga lingkungan sosial. Namun, hak itu kerap diabaikan oleh orangtua. Anak-anak dilarang bermain, bahkan kerap kali dimarahi. Arist mengingatkan, sikap seperti itu sama seperti melanggar hak anak.

"Kalau orangtua pulang setelah pergi lama dan bertemu anak, yang ditanya pasti 'sudah makan belum?', 'gimana nilai ulangannya?'. Namun tidak pernah ditanya 'sudah main belum?'," kata Arist.

Padahal, bermain bertujuan memberikan ruang anak untuk tumbuh secara psikologis dengan baik. Dalam fase usia 0-5 tahun, 6-12 tahun dan 13-17 tahun, pendidikan harus dikemas dalam pola bermain. "Karena dunia anak selain mengimitasi juga bersenang-senang," ujar Arist.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.