Kompas.com - 26/05/2017, 06:43 WIB
Dua karangan bunga nampak terpasang di lokasi bom, Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (25/5/2017) siang. Karangan bunga sebagai tanda duka cita pihak kepolisian terhadap tiga anggota polisi yang gugur. KOMPAS.com/Andri Donnal PuteraDua karangan bunga nampak terpasang di lokasi bom, Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (25/5/2017) siang. Karangan bunga sebagai tanda duka cita pihak kepolisian terhadap tiga anggota polisi yang gugur.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Tak butuh waktu lama setelah kejadian meledaknya bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta, foto dan video yang berisi potongan tubuh korban menjadi viral di media sosial. Kengerian pun dirasakan oleh orang yang menerima konten sadis tersebut.

Ketika terjadi sebuah tragedi; bisa berupa korban kecelakaan, bunuh diri, atau ledakan bom, ada sebagian orang yang tega mengunggah foto-foto korban dalam kondisi mengerikan ke media sosial.

Menurut dr.Natalia Widiasih Raharjanti, Sp.KJ, ada ciri kepribadian tertentu yang memang menikmati penyebaran konten sadis, yakni orang narsistik, psikopat dan sadis. Mereka dapat dideskripsikan sebagai orang-orang yang senang melihat orang lain menderita.

"Dengan menyebarkan foto-foto atau video kecelakaan, berharap orang yang menonton akan bereaksi, misalnya kalau di Facebook mendapat komentar 'sad', 'angry', atau komen pro dan kontra," kata psikiater yang disapa dengan dr.Lia ini.

Ia menjelaskan, orang yang narsistik dikenal sebagai orang-orang yang senang mencari perhatian. "Perhatian dari orang lain adalah asupan makanan buat low self-esteemnya," ujar psikiater forensik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Mashable Ilustrasi
Sensasi tersebut diciptakan dengan memanipulasi orang lain untuk memperhatikan dirinya. "Kalau di media sosial berupa posting foto-foto atau video 'tidak biasa', salah satu contohnya video sadis korban bom," paparnya.

Karena sifat dasar manusia adalah rasa ingin tahu, maka penyebaran foto-foto dan video itu akan mendapatkan perhatian orang, walau cuma sebentar atau sementara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dr.Lia, yang terpenting bagi orang narsistik adalah perhatian dan ia kurang mempertimbangkan perasaan atau pendapat orang lain terhadap postingannya.

"Bila tipe kepribadian narsistik ini bercampur dengan kepribadian antisosial atau psikopatik, maka orang ini akan senang mendapat atensi dan tidak peduli apakah ini melanggar hukum atau bisa membuat orang lain menderita," paparnya.

Mereka juga kurang peka pada perasaan orang lain. "Orang dengan campuran kepribadian narsistik dan psikopat ini bisa saja melakukan hal-hal yang terkesan sadis karena ketidakmampuan mereka berempati pada perasaan orang lain," ujar dr.Lia.

Meski demikian, perlu dipastikan dulu bahwa perilaku tersebut merupakan pola yang sifatnya berulang. "Tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu aktivitas atau kejadian tertentu saja," katanya.

Jika seseorang memang memiliki pola perilaku atau sudah berulang kali jadi penyebar foto-foto sadis, kemungkinan besar memang ia mengalami gangguan perilaku narsistik dan psikopat.

Baca juga: Apa Motivasi Orang Menyebar Foto Korban Bom

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.