Kompas.com - 26/05/2017, 09:04 WIB
Dokter Spesialis Penyakit Jantung Siloam Buton Hospital, dr Firman Leksmono SpJP FIHA, dalam Media Gathering di Siloam Buton Hospital. Aktif berolah raga belum tentu akan terhindar dari serangan jantung, apalagi telah mempunyai riwayat sakit jantung.  Olah raga yang sehat untuk jantung adalah melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi, jogging atau berenang yang dilakukan secara kontinu. KOMPAS.com / DEFRIATNO NEKEDokter Spesialis Penyakit Jantung Siloam Buton Hospital, dr Firman Leksmono SpJP FIHA, dalam Media Gathering di Siloam Buton Hospital. Aktif berolah raga belum tentu akan terhindar dari serangan jantung, apalagi telah mempunyai riwayat sakit jantung. Olah raga yang sehat untuk jantung adalah melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi, jogging atau berenang yang dilakukan secara kontinu.
|
EditorWisnubrata

BAUBAU, KOMPAS.com – Aktif berolahraga belum tentu membuat Anda terhindar dari serangan jantung, apalagi telah mempunyai riwayat sakit jantung. Olah raga yang sehat untuk jantung adalah melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi, jogging atau berenang yang dilakukan secara kontinu.

“Walau sering melakukan olahraga namun beberapa orang tetap mempunyai risiko serangan jantung, apalagi bila melakukan olahraga permainan seperti tenis, futsal dan lainnya, denyut jantung akan cepat tak berirama naik turun,” kata Dokter Spesialis Penyakit Jantung Siloam Buton Hospital, dr Firman Leksmono SpJP FIHA, dalam Media Gathering di Siloam Buton Hospital, Kamis (25/5/2017).

Menurut Firman, olahraga yang baik adalah melakukan jalan pagi, jogging, bersepeda, atau berenang selama 30 menit yang dilakukan setiap tiga kali dalam seminggu. “Namun kalau orang yang sehat dan tidak punya resiko penyakit jantung, tidak masalah melakukan olahraga main futsal, tenis atau lainnya,” ujarnya.

Firman menambahkan nyeri pada dada bukan selalu disebabkan karena jantung. Namun biasa juga disebabkan paru-paru, otot, sendi dan lainnya. Untuk sakit jantung, gejala yang paling umum itu adalah nyeri dada seperti tertindih beban berat.

“Dia tidak bisa mendeteksi di mana lokasi nyeri sakit yang sebenarnya. Kalau pasiennya tidak bisa mengetahui letak nyeri sakit di dadanya, maka hati-hati itu adalah gejala spesifik sakit jantung,” ucap Firman.

Selain itu, penyakit jantung koroner, umumnya lebih rentan terjadi pada pria dibandingkan wanita. Hal ini karena wanita mempunyai hormon estrogen yang melindungi pembuluh darah.

“Wanita sangat beruntung karena mempunyai hormon estrogen yang tinggi. Namun ketika wanita memasuki menopause, hormon estrogennya menurun dan hilang, maka resiko kena penyakit jantung hampir sama dengan laki-laki,” terangnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.