Kompas.com - 29/05/2017, 12:37 WIB
Aktivitas gajah di Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Senin (20/3/2017). Gajah-gajah di TNWK telah jinak dan sudah dilatih untuk membantu manusia. Salah satu kontribusi gajah-gajah ini adalah membantu mendamaikan jika terjadi konflik manusia dengan gajah-gajah liar. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGAktivitas gajah di Pusat Konservasi Gajah Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Senin (20/3/2017). Gajah-gajah di TNWK telah jinak dan sudah dilatih untuk membantu manusia. Salah satu kontribusi gajah-gajah ini adalah membantu mendamaikan jika terjadi konflik manusia dengan gajah-gajah liar.
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Berburu binatang bagi sebagian orang dianggap sebagai olahraga atau sebuah kesenangan. Para pemburu itu dengan bangga berpose gagah di media sosial dengan hewan buruannya, terkadang hewan langka.

Kegiatan perburuan hewan-hewan besar dan berbahaya sebagai sebuah tontonan sudah dikenal manusia sejak berabad silam.

Menurut catatan sejarah, pada masa Kekaisaran Assyria atau Mesopotamia sekitar 4000 tahun lalu, seorang raja merasa sangat bangga jika mereka mampu membunuh gajah, banteng liar, singa, burung unta, dan juga kambing gunung.

Perburuan itu memang diatur dan dilakukan semata untuk hiburan para bangsawan dan juga ajang pamer kegagahan.

"Berburu merupakan cara untuk menunjukkan kekuatan dan dominan kerajaan. Sebuah perburuan dianggap sukses jika mampu membunuh binatang liar, terutama hewan yang berbahaya dan sering menyerang manusia," kata Linda Kalof, profesor sosiologi dari Michigan State University.

Pandangan bahwa hewan buruan merupakan piala dari ajang pamer kekuatan juga masih dianut sampai saat ini. Menurut Kalof, di beberapa negara Afrika, kegiatan berburu sebagai hiburan yang mahal masih didominasi oleh pria kulit putih.

"Berburu merupakan ideologi yang sudah mengakar pada kolonialisme dan patriaki," katanya.

Kegiatan berburu juga melibatkan uang yang besar. Bukan rahasia bahwa perburuan yang legal, yang dilakukan dalam pengawasan pemerintah dan hanya memburu hewan tertentu, membutuhkan biaya besar untuk mendapat izin.

Menurut ahli biologi Chris Darimont, orang yang berburu sebagai kegiatan rekreasi senang berfoto dengan hewan buruannya. Foto itu merupakan bukti bahwa mereka mampu membiayai hobi yang mahal. Dengan kata lain, berburu merupakan cara untuk menunjukkan status sosial.

Pria juga menjadikan kegiatan berburu sebagai cara mengirim pesan pada rivalnya dan calon pasangannya. "Mereka ingin orang lain tahu bahwa mereka mampu mengambil risiko," kata Darimont.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.