Hasanudin Abdurakhman
Doktor Fisika Terapan

Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta.

Menumbuhkan Anak Menjadi Dewasa

Kompas.com - 31/05/2017, 08:44 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Ada teman saya yang mengeluh soal anaknya. Anak ini adalah anak yang cerdas. Sejak kecil ia biasa berprestasi, termasuk juara Olimpiade Sains Nasional (OSN). Puncaknya, ia diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama.

Tapi ia kini di titik nadir. Nilai ujiannya buruk, sampai ada mata kuliah yang ia gagal lulus. Apa yang terjadi? Kenapa anak pintar seperti ini tiba-tiba bisa menurun prestasinya?

Ada beberapa kemungkinan. Pertama, mungkin soal disiplin. Sampai SMA ia tinggal bersama orangtua. Sejak kuliah ia kos, jauh dari orangtua. Mungkin ia tidak bisa mengelola kebebasannya, sehingga gagal mengatur waktu dengan baik. Tanpa kontrol dari orang tua, ia menjadi lalai.

Kedua, soal cara belajar. Cara belajar di universitas berbeda dengan pendidikan dasar dan menengah. Cara belajarnya disebut adult learning. Mahasiswa dituntut untuk bisa belajar mandiri. Dosen hanya memberi pengantar dan arahan. Mahasiswa tidak lagi dibimbing langkah demi langkah sebagaimana ketika ia SMA.

Anak ini mungkin masih gagal beradaptasi, atau bertransformasi, dari remaja menjadi dewasa. Ia belum sanggup belajar sebagai orang dewasa. Ia mungkin juga belum sanggup mengelola diri secara dewasa.

Ini hal penting untuk kita perhatikan dalam pendidikan anak. Tujuan pendidikan adalah memberikan bekal kepada anak kita, agar mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab. Bukan sekadar membentuk mereka menjadi anak-anak yang berprestasi. Jangan sampai mereka hanya berprestasi saat anak-anak, kemudian melempem saat harus berjalan mandiri sebagai orang dewasa.

Bagaimana caranya? Bimbing anak kita untuk tumbuh menjadi mandiri dan bertanggung jawab. Jangan dominasi mereka. Jangan jadikan mereka sebagai robot pelaku kehendak kita saja. Tumbuhkan inisiatif. Beri kebebasan, tapi pada saat yang sama, latih mereka untuk bertanggung jawab.

Mengendalikan mereka secara penuh dalam jangka pendek mungkin terlihat bagus. Mereka tampil sebagai anak-anak yang patuh dan berprestasi. Tapi itu bisa saja mengebiri kedewasaan mereka. Mereka akan gagal tumbuh menjadi orang dewasa.

Bagaimana mengatasi masalah tadi bila sudah terlanjur terjadi? Saya sarankan orangtuanya untuk segera menemui anaknya, memastikan apa masalah yang dia hadapi. Bila diperlukan, mungkin ada baiknya konsultasi ke psikolog. Intinya, anak harus diyakinkan bahwa ia bisa bangkit kembali.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.