Sakit Hati

Kompas.com - 20/06/2017, 20:47 WIB
Ilustrasi www.freeimages.com/Alex BurdaIlustrasi
EditorLaksono Hari Wiwoho

Pencetus sakit hati

Pencetus sakit hati sangat banyak, bisa bersifat verbal bisa nonverbal. Di antaranya, akibat ditinggal atau dikhianati kekasih (berakibat "patah hati"), ditinggal pergi suami atau istri tercinta, disakiti teman (baik di sekolah atau di tempat pekerjaan), mengalami kekerasan fisik atau seksual, dianiaya oleh orang yang paling dekat, misalnya saudara atau orangtua sendiri.

Sakit hati pun bisa timbul dari ucapan atau kalimat seseorang yang menyinggung perasaan, menghina, sikap atau bahasa tubuh yang melecehkan, janji-janji yang tidak pernah ditepati, kena tipu, dibohongi. Atau hal-hal lain yang mungkin biasa bagi kebanyakan orang, tetapi bisa menyinggung perasaan pada orang tertentu.

Kadar sakit hati pada setiap orang pun pada dasarnya berbeda. Ada yang menyimpannya rapat-rapat dalam hati yang kelak bisa menjadi dendam atau kebencian yang akut.

Ada juga yang langsung melampiaskan berupa tindakan destruktif, yaitu memukul, melukai, atau membunuh. Tetapi ada juga yang tidak mau berlarut-larut dalam sakit hati. Ia mau rekonsiliasi atau memberi pengampunan kepada orang yang menyakitinya.
 
Ciri orang yang sakit hati
    
Menurut Ps Bobby MTh, sakit hati yang berlarut akan menjadi akar pahit atau kepahitan yang bisa berujung depresi.

Ciri-ciri orang yang sakit hati, yaitu perasaannya sangat sensitif, mudah tersinggung, sinis, kasar sikapnya, tidak perduli dengan orang lain, suka menggerutu, membenci tanpa sebab, apatis, pemurung, pendendam, malas makan, sulit tidur, cenderung menjauhkan diri dari  orang lain, sukar mengatakan terima kasih, tidak punya motivasi membantu, mudah ceria sebaliknya mudah juga diam atau sedih, mudah terkena depresi.

Dengan keadaan seperti itu, maka sakit hati dikategorikan sebagai gangguan psikologis karena berhubungan dengan perasaan, emosi, dan akal. Gangguan psikologis ini apabila dibiarkan akan menyebabkan timbulnya kecemasan atau rasa takut berlebihan yang berujung depresi.

Oleh karena itu, menyimpan rasa sakit hati sekian lama akan merugikan diri sendiri.

Profesor psikologi dari Monmouth University New Jersey, Gary Lewandowski PhD mengatakan, "Satu hal yang tak boleh Anda lakukan adalah mengunci diri di dalam kamar. Mengasingkan diri sendiri hanya akan membuat semuanya bertambah buruk."

Menurut penelitian Philippe Verduyn dan Saskia Lavrijsen dari University of Leuven, Belgia, yang dipublikasikan dalam jurnal Springer berjudul Motivation and Emotion, sedih karena patah hati, sedih ditinggal orang tersayang, dikecewakan orang terdekat, ternyata menimbulkan kesedihan hati yang sangat dalam dan sangat sulit hilang.

Dalam penelitian tersebut menjelaskan bahwa sedih, patah hati, ternyata 240 kali lebih lama hilangnya ketimbang 27 emosi negatif lainnya, seperti jengkel, bosan, malu.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X