Chef Juna, "Bad Boy" yang Tak Sengaja Belajar Masak - Kompas.com

Chef Juna, "Bad Boy" yang Tak Sengaja Belajar Masak

Kompas.com - 23/06/2017, 19:11 WIB
KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL Junior Rorimpandey atau lebih dikenal dengan chef Juna berpose di Restoran Correlate Kuningan, Jakarta, Rabu (21/6/2017).

Dalam beberapa tahun terakhir, acara masak atau kuliner di televisi selalu menghadirkan chef laki-laki keren berwajah tampan. Salah satunya adalah chef Juna yang memiliki image sebagai "bad boy".

Walau pemilik nama asli Junior Rorimpandey ini terkenal jago masak, tapi pria yang pernah menjadi juri kompetisi memasak Master Chef Indonesia ini mengaku sebelumnya sama sekali tak memiliki kemampuan memasak dan memulai kariernya dari nol.

"Saya jadi chef itu karena ketidaksengajaan," kata Juna dalam wawancara dengan Kompas Lifestyle di restoran terbarunya Correlate di bilangan Kuningan Jakarta Selatan.

Walau citra galak terlanjur melekat pada dirinya, tetapi ketika bertemu langsung dengannya Juna justru terlihat ramah dan banyak bercerita.

Pria kelahiran Jakarta 41 tahun yang lalu ini mengenang kembali perjalanan hidupnya. Menurutnya, ketika remaja ia adalah seorang berandalan yang diperkirakan suram masa depannya. Ditambah lagi dengan kondisi keluarga yang terpuruk akibat krisis moneter tahun 1998.

Pria bertato ini lalu memutuskan hijrah ke Amerika Serikat agar kenalakannya tak bertambah.

Sebagai bekal, Juna menjual motor Harley Davidson kesayangannya seharga Rp 40 juta di tahun 1998 dan hasilnya dipakai untuk biaya sekolah penerbangan di negeri Paman Sam.

Ia mengkalkulasi kebutuhan untuk menjalani sekolah penerbangan selama 6 bulan adalah sebesar 20.000 Dollar Amerika Serikat, dengan harapan setelah 6 bulan menjalani masa pendidikan bisa mendapatkan pengalaman 250 jam terbang, memperoleh private pilot lisences dan dengan mudah mendapatkan kerja di Airlines tanah air.

Pada kenyataannya, sekolah penerbangan di Amerika Serikat sangat terpengaruh oleh faktor cuaca yang menyebabkan butuh waktu yang lebih panjang bagi para siswa untuk mendapatkan jam terbang. Padahal, bekal yang dimiliki Juna hanya mampu bertahan selama 6 bulan seperti rencana di awal.

Jadi Pekerja Ilegal

Sadar bahwa dirinya harus bertahan agar tetap memiliki bekal, Juna lantas bekerja serabutan dan rajin menyebarkan selebaran iklan ke setiap rumah-rumah yang berada di Houston Texas Amerika Serikat dengan kondisi daerah yang sangat panas.

Tak selang beberapa lama, Juna mendapatkan informasi dari temannya bahwa salah satu restoran Jepang bernama Miyako membutuhkan pelayan. Tak menunggu waktu lama, Juna pun memutuskan untuk melamar kerja sebagai pelayan dengan kondisi visa yang sudah habis masa berlakunya. Beruntung pemilik restoran mau menerimanya.

Gaji pertama yang diterima Juna adalah sebesar 1.000 Dollar AS per bulan, angka yang relatif kecil untuk tinggal di AS karena ia harus membayar sewa apartemen dan biaya makan.

"Saya cuma bisa simpan 150 atau 200 dollar untuk makan sebulan. Pertama jadi pelayan sebagai pekerja ilegal, kan saya tidak punya izin kerja, izin tinggal juga sudah habis setelah 6 bulan," terangnya.

Sebagai pelayan restoran, Juna mengaku memiliki banyak pengalaman tak terlupakan, salah satunya dimarahi manajer restoran karena ia tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaian pelanggan.

Kejadian itu justru memacunya untuk serius mendalami teknik-teknik memasak. Kebetulan Juna ditawari sushi master restoran untuk mengikuti training sebagai pemasak, bukan sebagai pelayan.

"Saya tertarik hanya karena pekerjaan, karena tak mau jadi gelandangan. Apalagi ibu saya menelepon tidak bisa lagi mengirim uang dan minta saya pulang ke Indonesia," kenangnya.

Saat training memasak, Juna memulainya dari menjadi tukang mengupas dan memotong sayuran, hingga membersihkan panci yang berminyak. Lalu mulai training membuat nasi dan merebus udang, dari situ dirinya belajar dengan dibantu sushi chef.

"Memang tidak mudah, gimana caranya memasak nasi yang benar, gimana caranya memotong bahan makanan dengan ukuran yang konsisten, bagaimana mengupas kulit kentang agar tidak banyak termakan dagingnya. Kalau di Jepang butuh waktu bertahun-tahun untuk diizinkan sushi chef melakukan hal itu," katanya.

Berkat keuletannya, Juna lantas disponsori oleh restoran tempatnya bekerja untuk menjadi US Resident Green Card Holder dan diberikan kesempatan bekerja selama 5 tahun di restoran tersebut. Tak heran jika dirinya kini dikenal piawai mengolah berbagai masakan Jepang.

"Green Card Holder itu saya peroleh dari pekerjaan karena dinilai oleh pemerintah Amerika saya memiliki skill yang tidak dimiliki warga Amerika pada umumnya seperti sushi chef," ucapnya.

KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBEL Junior Rorimpandey atau lebih dikenal dengan chef Juna berpose di Restoran Correlate Kuningan, Jakarta, Rabu (21/6/2017).
Pindah Restoran

Chief sushi yang menjadi mentornya kemudian mengusulkan Juna agar mencari pegalaman baru. Juna kemudian berpindah ke restoran Jepang nomor 1 di Houston Texas yang bernama Up Town Sushi yang selalu ramai dipadati pengunjung.

Gaji yang didapatkan pun meningkat menjadi 4.000 Dollar AS per bulan. "Tempatnya tidak jauh, sekitar 2 atau 3 blok dari tempat lama," kenangnya.

Dengan alasan ingin mendapatkan ilmu baru, Juna kemudian pindah lagi ke restoran Perancis yang baru buka dengan bayaran yang lebih kecil dari sebelumnya. Di restoran ini ia hanya mendapat penghasilan kurang dari setengahnya.

Untuk mengimbangi pengeluarannya, Juna lalu bekerja di beberapa restoran, 40 jam di restoran Perancis dan 40 jam lagi di restoran lainnya. "Saya selalu berpindah kerja dengan restoran yang berbeda, jadi saya banyak belajar dari situ," ucapnya.

Kembali ke Indonesia

Juna akhirnya mencapai posisi tertinggi dalam karier memasaknya, yaitu eksekutif chef di tahun 2009, namun dirinya masih belum merasa puas dengan ilmu yang didapatkannya.

Setelah hampir 12 tahun tak pulang ke Indonesia, Juna kemudian memutuskan cuti ke Indonesia selama 3,5 bulan untuk mengamati kuliner tanah air.

Setelah kembali ke AS, Juna mendapatkan kabar bahwa teman-temannya akan membuat restoran yang menurutnya memiliki konsep yang benar. Ia pun tertarik.

"Konsep restoran yang benar itu dalam artian kalau kamu makan bisa melihat atau bertemu dengan chefnya. Restoran menengah ke atas yang selalu dipegang oleh bule, mau komplain makanan chef-nya tidak ada," tutur Juna.

Di Indonesia Juna memegang restoran Jack Rabbit di Kuningan dengan konsep menampilkan Juna sebagai chef dan Mr Carsen sebagai bartender. Menurutnya itu hal yang bagus untuk dunia food and beverage di Jakarta di tahun 2010-an.

Tak butuh waktu lama, restoran Jack Rabbit menjadi terkenal. "Padahal pada saat itu orang belum kenal saya," ucap Juna.

Menurut dia, konsep yang diterapkannya cukup sukses, karena pada saat itu baru Jack Rabbit yang menampilkan chef berbeda seperti biasanya.

Kemunculannya sebagai juri memasak di salah satu televisi swasta membuat namanya semakin mencuat. Penampilannya yang selalu terkesan galak, serius, dan juga seksi, membuat penggemarnya kebanyakan adalah ibu-ibu.

Dapur kini telah menjadi panggung kehidupan Juna. Setelah sukses dengan Jack Rabbit, kini Juna muncul dengan tampilan barunya di Correlate yang memadukan kuliner Perancis dan Jepang.


EditorLusia Kus Anna
Komentar
Close Ads X