Kompas.com - 29/06/2017, 08:30 WIB
Ilustrasi pasangan bertengkar thinkstock/Marie AppertIlustrasi pasangan bertengkar
|
EditorKurniasih Budi


KOMPAS.com – Bertengkar dengan pasangan merupakan dinamika yang biasa terjadi dalam sebuah hubungan. Sangat berbahaya jika adu argumen berubah menjadi kekerasan verbal, fisik, atau emosional.

Masalahnya, seringkali seseorang tidak menyadari bahwa perbuatan pasangannya sudah mengarah pada tindak kekerasan. Hingga, terlambat mengambil sikap.

“Tidak mudah mengenali kekerasan dalam pacaran saat masih menjalaninya. Untuk itu, kenali kekerasan dalam pacaran sebelum berdampak buruk seperti perubahan mental, ketidakpercayaan diri, ketakutan, atau trauma,” ujar Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (24/6/2015).

Dengan mengenali kekerasan hubungan sejak awal, korban bisa segera menyelamatkan diri. Mereka dapat berkonsultasi dengan terapis hubungan, menjaga jarak dari pasangannya, atau bahkan memutuskan hubungan dengan sang kekasih.

Apa saja tanda-tanda kekerasan dalam hubungan?

Salah satunya adalah menyakiti secara fisik. Menurut psikoterapis, Stacy Kaiser, jika pasangan mulai suka memukul atau menampilkan tingkah laku yang mengancam, maka hubungan sudah masuk ke dalam kondisi yang sangat berbahaya.

thinkstock/lolostock Ilustrasi kekerasan dalam hubungan

“Tingkah laku (mengancam) tersebut antara lain memukul, menendang, menggigit, dan melempar,” ucap Kaiser, seperti dikutip bustle.com, Kamis (15/6/2017).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tanda kekerasan lain, imbuh Kaiser, ialah pasangan memaksa melakukan hubungan seksual saat sedang bertengkar. Mereka tetap melakukan pemaksaan meski kekasihnya sudah menolak. Ujung-ujungnya, korban menuruti kemauan pelaku karena merasa takut akan disakiti.

Kekerasan emosional

Bentuk kekerasan yang lebih berbahaya adalah kekerasan emosional. Kekerasan jenis ini lebih terselubung daripada tindakan menyakiti fisik, tetapi memiliki dampak yang lebih menyakitkan bagi korban.

“Faktor utama dari kekerasan emosional adalah membuat pasangan merasa “kecil” dan malu. Pelaku tidak pernah memukul, tetapi selalu membuat pasangannya merasa seperti ‘sampah',” kata pemilik Feminist Jurist Network (DeFEMde), Marina Ganzarolli, seperti dilansir buzzfeed.com, Minggu (23/4/2017).

Dia pun memberi contoh beberapa kalimat yang biasa dilontarkan dalam kekerasan psikologis, di antaranya “jika kamu tidak melakukannya, berarti kamu tidak mencintai aku” atau “kalau kamu tidak melakukannya, aku akan meninggalkan kamu”. Lebih lanjut, pelaku juga kerap mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang akan mencintai, menerima, dan menginginkan korban selain mereka.

Saat berargumen, tak jarang pelaku juga akan menaikkan volume suaranya hingga membentak korban dengan kata-kata kasar. Berhati-hati lah, karena kekerasan verbal sangat besar kemungkinannya berubah menjadi kekerasan fisik di masa mendatang.

thinkstock/AntonioGuillem Ilustrasi kekerasan emosional dalam hubungan
Contoh lain dari kekerasan emosional adalah pelaku mengontrol segala aspek kehidupan dan pilihan pasangannya. Mulai dari cara berpakaian hingga pengeluaran bulanan korban pun mereka atur. Mereka juga kerap mendikte ke mana sang kekasih boleh dan tidak boleh pergi.

Selain itu, pelaku kekerasan emosional juga sering melarang pasangannya berbicara dengan orang lain tanpa didampingi mereka. Bahkan, tak jarang sang kekasih tidak boleh berteman dengan lawan jenis.

Jika korban sudah merasa kesal atau ingin melaporkan pelaku, imbuh Ganzarolli, biasanya akan muncul tahap yang disebut “bulan madu.” Pada fase ini, pelaku seringkali menunjukkan penyesalan, mengaku bahwa sikap mereka tidak baik, berjanji akan segera berubah, dan pergi terapi. Umumnya, mereka juga akan membelikan hadiah, menyatakan rasa cinta, menghargai, dan mendengarkan omongan pasangannya dengan baik.

Pada tahap tersebut, pelaku berubah dari “katak” menjadi seorang “pangeran”. Akhirnya, keinginan korban untuk melaporkan pelaku pun batal.

“Korban tidak ingin menyingkirkan si pasangan, tetapi (menghilangkan) tingkah laku kasarnya. Namun, meski pada tahap ini semua kelihatan baik-bak saja, cepat atau lambat siklus kekerasan akan selalu muncul lagi,” ujar Ganzarolli.

Jadi, sebaiknya korban segera menyelamatkan dirinya, baik dengan memutuskan hubungan maupun menceritakannya pada orang lain. Korban bisa bercerita ke keluarga, teman, atau mencari bantuan ke ahli. Tak perlu takut, ingatlah bahwa kekerasan terjadi bukan karena kesalahan korban.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.