Kompas.com - 10/07/2017, 21:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Tindakan operasi untuk mempercantik penampilan semakin populer. Tidak hanya bagian wajah, organ intim wanita pun kini menjadi sasaran untuk dipercantik lewat pisau bedah.

Labiaplasty atau operasi untuk mengurangi ukuran bibir vagina menurut American Society of Plastic Surgeons, termasuk operasi plastik genital yang paling sering dilakukan. Yang memprihatinkan, kini operasi tersebut juga diminati gadis-gadis remaja.

"Mereka kadang akan mengeluarkan komentar seperti ini, saya hanya membencinya, saya hanya menginginkannya dihapus. Mereka bisa berpendapat begitu pada semua bagian tubuhnya, terutama organ intimnya" kata Dr Naomi Crouch seorang ginekolog remaja kepada BBC yang dikutip Medical Daily.

Seorang gadis bernama Anna (bukan nama sebenarnya) mulai mempertimbangkan labiaplasty pada usia 14 tahun. Dia berkeinginan untuk melakukan operasi vagina tersebut setelah mendapati bentuk vagina yang menurutnya proporsional dari sebuah film porno.

"Saya baru mengetahui bahwa itu harus simetris dan tidak mencuat. Saya menginginkannya menjadi lebih kecil," tutur Anna.
 
Anna melanjutkan, meski dirinya memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan operasi vagina namun, dirinya masih mempertimbangan risikonya.

Akhirnya, Anna pun memutuskan untuk tidak melakukan operasi tersebut. "Saya benar-benar senang karena tidak melakukannya, saya tidak membutuhkannya, saya terlihat normal. Sepenuhnya dan sangat normal," ucapnya.

Dokter Paquita de Zulueta, yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun mengatakan, bahwa "bentuk vagina yang cantik" menjadi tren selama beberapa tahun terakhir ini.

"Persepsi mereka adalah bibir dalam seharusnya tidak terlihat, seperti Barbie, tapi kenyataannya ada banyak. Sangat normal jika bibir vagina menonjol," terang Paquita.

Menurut BBC, National Health Service di Inggris tidak mengizinkan prosedur tersebut dilakukan hanya karena alasan kecantikan, sehingga menyebabkan banyak gadis remaja yang makin membesar-besarkan ketidaknyamanan vagina mereka.

Tren yang juga melanda gadis-gadis remaja di Amerika Serikat ini membingungkan para dokter ahli. Dr Julie Strickland, ketua komite American College of Obstetricians mengatakan kepada New York Times, tren ini seharusnya tidak perlu terjadi.

"Seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan sampai pertumbuhan dan perkembangannya selesai," kata Strickland. Ia menjelaskan bahwa operasi tersebut memiliki efek jangka panjang seperti mati rasa, nyeri, atau jaringan parut.

Meski demikian, operasi ini memiliki manfaat bagi remaja. Karena alasan medis, operasi ini boleh dilakukan oleh mereka yang banyak berolahraga dan mengalami rasa lecet atau gatal.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X