Kompas.com - 18/07/2017, 13:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Stres mungkin penyebab dari berbagai hal buruk yang terjadi pada kesehatan, terutama kesehatan mental. Bukan cuma itu, berteman akrab dengan stres juga membuat otak lebih tua beberapa tahun.

Tiap orang memiliki tingkat stres berbeda-beda. Yang perlu diwaspadai adalah stres besar yang dialami saat kita berusia muda, misalnya saja perceraian, kematian, atau bahkan pindah sekolah, karena dapat mempengaruhi fungsi kognitif di kemudian hari.

Tim dari University of Wisconsin School of Medicine and Public Health meneliti data dari 1.320 orang yang melaporkan mengalami stres selama masa hidup mereka dan menjalani tes neuropsikologis untuk mengukur kemampuan berpikir dan ingatan mereka.

Peserta rata-rata berusia 58 tahun dengan tingkat stress tinggi seperti kehilangan pekerjaan, kematian anak, perceraian, atau tumbuh dengan orangtua pemabuk dan pengguna narkoba.

Tes tersebut meneliti beberapa area, antara lain ingatan langsung, pembelajaran verbal dan ingatan, pembelajaran visual dan ingatan, serta kemampuan menceritakan kembali.

Hasilnya menunjukkan bahwa stres berat berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih buruk di kemudian hari. Studi ini dipresentasikan di Alzheimer's Association International Conference di London.

Dr. Maria Carrillo, kepala peneliti Alzheimer's Association, mengatakan peristiwa-peristiwa stres yang dipusatkan para peneliti sangat beragam, mulai dari kematian orangtua, pelecehan, kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kemiskinan, tinggal di lingkungan yang kurang beruntung, hingga perceraian.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika melihat secara khusus orang Afrika Amerika, ternyata mereka mengalami 60 persen kejadian yang lebih berat daripada orang Kaukasia selama masa hidup mereka.

Peneliti mengatakan, pada orang Afrika-Amerika, setiap pengalaman stres setara dengan kira-kira empat tahun penuaan kognitif. Dengan kata lain, penuaan di otak terjadi lebih cepat dari seharusnya.

Dr. Doug Brown, peneliti bidang Alzheimer mengatakan, kecemasan dan depresi juga dianggap berkontribusi terhadap risiko demensia.

Stres dalam jangka panjang memicu efek inflamasi atau peradangan pada sel-sel tubuh. Kondisi ini dianggap mempercepat timbulnya demensia.

Para ahli percaya  bahwa gaya hidup dan pola makan sehat dapat membantu mengurangi risiko ini, bahkan bagi orang-orang yang mengalami peristiwa stres.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber nypost.com
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.