Berikan Keleluasaan Anak Bermain Hingga Usia 7 Tahun

Kompas.com - 21/07/2017, 20:44 WIB
Pendiri Kandank Jurank Doank, Dik Doank saat mengisi acara Aku Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Jumat (21/7/2017). KOMPAS.com/KAHFI DIRGA CAHYAPendiri Kandank Jurank Doank, Dik Doank saat mengisi acara Aku Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta, Jumat (21/7/2017).
|
EditorWisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Anak-anak memiliki hak untuk bermain. Apalagi di saat mereka masih di bawah usia tujuh tahun. Pada masa itu, bermain adalah aktivitas yang perlu dilakukan.

Konsep inilah yang dipegang oleh Dik Doank, pendiri sekolah alam Kandank Jurank Doank. Pria dengan nama asli Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denda Kusuma ini mengatakan, tugas anak-anak hingga usia tujuh tahun adalah bermain. Proses tersebut perlu dilalui agar anak-anak tidak dewasa terlalu cepat karena kebanyakan belajar.

"Karena (kalau melewatkan proses bermain), kelak kamu akan menemukan anak yang berusia dewasa tapi bersifat kekanak-kanakan. Ini bahaya, anak kecil itu tugasnya main," kata Dik Doank dalam acara Aku Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (21/7/2017).

Dia mencontohkan, negara Finlandia dengan sistem pendidikan terbaik di dunia menerapkan kebijakan anak usia di bawah tujuh tahun untuk tidak sekolah. Anak-anak diwajibkan bersama ibunya untuk bermain sekaligus belajar.

Namun, tambah Dik, yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya. Para orangtua panik bila anak-anak mereka hingga usia tujuh tahun belum sekolah, baik itu pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak atau pun sekolah dasar (SD).

Para orangtua berbondong-bondong menyekolahkan anak, sementara mereka sibuk bekerja. Pengawasan orangtua pun dianggap kurang, yang akhirnya dititipkan ke nenek atau kakek. Lantas, apa yang didapat dari kegiatan bermain anak-anak?

Baca: Bukan Mainan Mahal, Ini yang Dibutuhkan Anak dari Orangtuanya

Dik tak secara tegas menentang anak-anak untuk masuk PAUD atau pun TK. Dia hanya melihat bahwa semangat anak-anak yang ikut kegiatan sekolah tersebut harus lah bermain. Dengan kata lain, mereka harus senang. "Belajar itu cuma bonus," kata Dik.

Dia mencontohkan konsep bermain permainan tradisional gobak sodor yang memiliki semangat kebersamaan. Di sana anak-anak bisa belajar sambil bermain. Dia pun tidak menyarankan anak-anak bermain video games yang hanya mementingkan kemenangan, bukan kerjasama.

"Siapa bilang main itu bukan belajar? Main itu lebih dari belajar," kata Dik.

Dia menambahkan, "Messi itu ngapain? Main bola bukan? Gara-gara dia main bola, kita semua belajar bola. Tapi yang dimainkan Messi itu apa? Passionnya dia," ujarnya.

Baca: Kenali Tanda-tanda Anak Stres

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X