Hysterical Parenting

Kompas.com - 01/08/2017, 11:30 WIB
Ilustrasi BBC INDONESIAIlustrasi
EditorWisnubrata

Yang saya lihat pada psikolog tadi, ia memaparkan hal-hal yang perlu diwaspadai secara histeris. Para pendengarnya adalah ibu-ibu yang jarang membaca, langsung shock ketika berhadapan dengan "kenyataan" yang begitu menyeramkan tadi. Saya beri tanda kutip, karena reaksinya jadi seakan mereka sedang berhadapan dengan anak-anak yang sedang kecanduan. Juga karena beberapa penjelasan dalam slide presentasi tadi saya lihat sangat berlebihan.

Saya perhatikan berbagai pernyataannya di media, saya simpulkan psikolog ini adalah orang yang masih shock dengan apa yang ia ketahui. Ia histeris, dan menyebarkan histeria kepada banyak orang.

Baca: Bagaimana Menjelaskan ke Anak Kelakuan Aneh Orang Dewasa

Apa yang perlu kita lakukan? Pertama, kenali dulu definisi pornografi itu. Jangan sampai kita sudah menuduh anak-anak kita menonton konten porno hanya karena mereka menonton video clip girl band. Anak-anak remaja laki-laki tertarik melihat tubuh perempuan itu tanda bahwa mereka tumbuh wajar. Kita tidak perlu bereaksi berlebihan terhadap hal yang wajar itu.

Lakukan kontrol terhadap aktivitas media anak-anak. Apa yang mereka tonton di TV dan Youtube, apa yang mereka lihat di internet. Tapi jangan sampai jadi seperti polisi moral, yang menimbulkan sikap antipati. Beri mereka kepercayaan, tapi tetap pantau.

Kenali hal-hal dasar soal internet. Punyalah pengetahuan soal history, sehingga kita bisa memantau apa yang dilihat anak-anak. Saluran Youtube di perangkat yang biasa dipakai anak saya adalah saluran pada akun saya. Apa yang mereka lihat bisa saya lihat melalui perangkat yang saya pakai.

Batasi waktu mereka memakai internet. Dampingi saat mereka memakainya. Biasakan berkumpul dengan mereka. Anak-anak saya biasakan untuk berkumpul di ruang keluarga, tidak menyendiri di kamar masing-masing. Mereka hanya berada di kamar saat tidur.

Hal-hal itu jauh lebih penting ketimbang menjadi histeris. Histeria terjadi saat kita tidak paham situasi yang kita hadapi, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka, belajarlah. Tapi ingat, jangan belajar pada psikolog histeris.

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X