Kompas.com - 06/08/2017, 10:19 WIB
Kati menjemur jagung pipil hasil panen di desa Tegal Yoso, Purbolinggo, Lampung Timur, Jumat (28/7/2017). Atmo Parigi dan istrinya bekerja sebagai petani sekaligus melindungi sawah dan kebunnya dari kawanan gajah liar. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGKati menjemur jagung pipil hasil panen di desa Tegal Yoso, Purbolinggo, Lampung Timur, Jumat (28/7/2017). Atmo Parigi dan istrinya bekerja sebagai petani sekaligus melindungi sawah dan kebunnya dari kawanan gajah liar.
|
EditorWisnubrata

KOMPAS.com - Kenaikan tingkat karbondioksida di Bumi ternyata merusak nilai nutrisi dari tanaman-tanaman pangan yang paling penting di dunia--dan belakangan kerusakan itu semakin buruk.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Enviromental Health Perspectives mengungkapkan kandungan protein beras, gandum, barley, dan kentang menurun antara 6 persen dan 14 persen jika ditanam dalam lingkungan dengan konsentrasi CO2 yang tinggi. Ini bisa memunculkan risiko kekurangan protein pada penduduk dunia.

"Temuan ini mengejutkan," kata Samuel Myers, peneliti studi tersebut, kepada NexusMedia. "Jika kita memikirkan ini 15 tahun yang lalu dan mencoba mengantisipasi dampak kesehatan akibat emisi CO2, kita mungkin tidak mendapati bahwa makanan kita akan menjadi kurang bergizi," tambah dia.

Sedikitnya ada 18 negara yang berisiko kehilangan lebih dari 5 persen protein makanan mereka pada tahun 2050 jika level CO2 terus meningkat. "Itu akan menambahkan 150 juta orang lainnya bersama ratusan juta orang yang sudah menderita kekurangan protein," kata Myers.

Kekurangan zat besi, yang sudah terjadi di banyak tempat di dunia, juga diprediksi akan menjadi isu yang jauh lebih besar. Menurut studi pendukung dari GeoHealth, lebih dari 1 miliar wanita pada masa subur dan 354 juta anak di bawah usia 5 tahun diperkirakan kehilangan 4 persen zat besi akibat kenaikan kadar CO2. Sebagian besar populasi yang berisiko itu tinggal di Asia Selatan dan Afrika Utara.

Menurut dia hal ini berkaitan dengan masalah keadilan. "Orang-orang yang bertanggung jawab atas meningkatnya emisi CO2 mencerminkan gambaran orang-orang yang akan menderita. Negara yang lebih kaya menghasilkan CO2 sedangkan negara dengan orang-orang paling miskin menanggung akibatnya."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Sumber nypost.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.