Kompas.com - 14/08/2017, 11:15 WIB
Ilustrasi depresi SIphotographyIlustrasi depresi
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Bila instagram Anda dipenuhi foto-foto yang digelapkan (menggunakan pilihan Slumber, Lo-Fi atau Inkwell, Anda mungkin perlu memeriksa kesehatan jiwa Anda. Menurut penelitian, hal ini bisa jadi merupakan tanda seseorang mengalami depresi.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 8 Agustus di jurnal EPJ Data Science, para ilmuwan menganalisis lebih dari 40.000 foto Instagram dari 166 orang yang bersedia mengungkapkan riwayat kesehatan mental mereka. Sekitar setengah dari peserta mengaku pernah dinyatakan mengalami depresi klinis dalam tiga tahun terakhir.

Dengan memuat foto-foto Instagram mereka ke dalam program komputer, para ilmuwan menemukan bahwa individu dengan riwayat depresi cenderung memasang gambar yang lebih biru, lebih gelap dan menunjukkan lebih sedikit wajah. Program ini juga mampu mengidentifikasi individu dengan diagnosis depresi sebelumnya, dengan akurasi 70 persen.

"Ini bisa menjadi metode baru untuk mengetahui gejala depresi dan penyakit mental lainnya secara dini," kata penulis studi Chris Danforth dalam laporannya. "Penelitian ini memang belum masuk ke tes diagnostik, juga tidak dilakukan dalam jangka panjang. Tapi ini bisa jadi cara baru untuk membantu seseorang," tambahnya.

Baca: Stres? Ingatlah Pengalaman yang Menyenangkan

Penelitian ini juga memberikan catatan penting, bahwa kecerdasan buatan (artifical intelligence) dapat digunakan untuk membantu mendeteksi penyakit kejiwaan di masa mendatang.

"Pasien umumnya merasa malu dan menghindari perbincangan soal kesehatan mental mereka saat bertemu dengan dokter. Namun di hadapan komputer, mereka barangkali lebih merasa nyaman," kata Joe Taravella, PhD dan psikolog klinis, kepada Yahoo Beauty. "Kita barangkali perlu mengubah pemeriksaan dengan menghadirkan cara yang lebih nyaman agar pasien bisa bicara lebih terbuka dan jujur."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski demikian, para ilmuwan juga menyadari bahwa penggunaan teknologi harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, dan tidak menyederhanakan diagnosa semata-mata berdasarkan jejak seseorang di media sosial.

"Namun karena media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, ia menjadi salah satu platform yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesehatan mental seseorang," kata Chloe Grass-Orkin of Rethink Mental Illness.

Baca: Kenali Gejala Depresi, Pemicu Utama Bunuh Diri

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Sumber Fox News
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.