Kompas.com - 31/08/2017, 15:19 WIB
Foto yang diambil pada tanggal 4 September 1997 menunjukkan Pangeran William, Pangeran Harry dan ayah mereka Pangeran Charles berhenti di luar gerbang menuju Kastil Balmoral untuk melihat karangan bunga bagi Putri Diana. Dua puluh tahun yang lalu, pada tanggal 31 Agustus 1997, Putri Diana meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris, Perancis.  AFP PHOTO/ PA/ CHRIS BACONFoto yang diambil pada tanggal 4 September 1997 menunjukkan Pangeran William, Pangeran Harry dan ayah mereka Pangeran Charles berhenti di luar gerbang menuju Kastil Balmoral untuk melihat karangan bunga bagi Putri Diana. Dua puluh tahun yang lalu, pada tanggal 31 Agustus 1997, Putri Diana meninggal dalam kecelakaan mobil di Paris, Perancis.
|
EditorLusia Kus Anna

Dia mengajak William untuk mengunjungi pasien kanker dan mengajari mereka berdua untuk berhubungan dengan mereka yang kurang beruntung. Kunjungannya tidak dirancang untuk membuatnya terlihat baik, namun untuk menarik perhatian publik tentang penyebab terjadinya hal-hal tersebut.

Pada tahun 2009, Pangeran William menghabiskan malam untuk tidur dengan nyenyak di jalanan London untuk merasakan menjadi tunawisma. Dia tidur dengan kantong tidur di samping tempat sampah dekat Jembatan Blackfriars—dan membawa fokus besar pada badan amal, Centrepoint, seperti yang dilakukan ibunya sebelumnya.

Menengok ke belakang, di bulan April 1987, Putri Diana membuka unit HIV/AIDS di Inggris di Rumah Sakit Middlesex London untuk merawat pasien-pasien HIV. Ia berusaha keras menghapus stigma penyakit ini.

Di depan media, dia menjabat tangan seorang pria yang menderita penyakit tersebut. Dia melakukannya tanpa sarung tangan—menantang anggapan bahwa HIV/AIDS ditularkan dari orang ke orang melalui sentuhan.

Dalam isyarat itu, dia menunjukkan bahwa ini adalah kondisi yang membutuhkan belas kasihan dan pengertian—bukan ketakutan dan ketidaktahuan—seperti yang terjadi di tahun 80-an, di mana banyak orang meninggal karena penyakit ini.

Di Indonesia, dia memegang lengan kiri dari tangan tangan penderita kusta. Anda bisa melihat fotografer mundur, tapi Diana tahu kusta tidak bisa ditularkan dengan sentuhan.

Citra itu membuat kesan yang kuat. Pendeta Tony Lloyd, direktur Leprosy Mission, mengatakan kepada Diana: “Anda telah berbuat lebih banyak untuk pendidikan masyarakat tentang stigma kusta daripada yang telah kita lakukan selama 120 tahun.”

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagi Diana, warisan pribadinya yang terbesar adalah kampanyenya untuk menghapus ranjau darat di dunia. Perjalanannya ke Angola dan melintasi ladang ranjau untuk Halo Trust menggerakan dia menuliskan cek senilai 250.000 pundsterling saat itu untuk membantu merawat korban.

Setelah kematiannya, usahanya dihargai dengan penandatanganan Perjanjian Ottawa untuk melarang tambang ranjau darat.

Masih banyak keinginan Diana yang belum tercapai, salah satunya membuat kampanye untuk menghapus pelecehan dan prostitusi anak di Asia.

Halaman:


Sumber The Sun
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.