Kompas.com - 18/09/2017, 17:18 WIB
Ilustrasi pexelsIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Menggali kreativitas memang gampang-gampang susah. Tetapi, seringkali ide kreatif tak segera muncul ketika dibutuhkan.

"Kreativitas adalah salah satu keterampilan inti yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang kini berubah lebih cepat," kata rekan penulis studi Sam Ferguson dari University of Technology di Sydney, Australia. "Sehingga, bagaimana cara memfasilitasi keterampilan tersebut, menjadi sangat penting.”

Karena musik juga merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, dan dinilai bisa menjadi peluang potensial untuk mendorong kreativitas dalam pendidikan maupun tempat kerja, maka Ferguson dan Simone Ritter dari Radboud University mencoba mengaitkan musik dengan tingkat kreativitas seseorang.

Mereka melibatkan 155 mahasiswa Radboud University yang sedang menyelesaikan tugas kreativitas. Para peneliti membagi siswa menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok secara acak ditugaskan untuk mendengarkan salah satu dari empat jenis musik atau tak mendengarkan musik sama sekali, sebelum dan selama mengerjakan tugas kreativitas mereka.

Ferguson dan Ritter menguji pemikiran konvergen, yang mengukur apakah seseorang dapat menemukan jawaban terbaik, yakin, atau benar terhadap suatu masalah.

Jawaban kemudian dinilai dengan jumlah, kualitas, kreativitas, orisinalitas dan kegunaan dari ide. Para siswa juga ditanyai tentang suasana hati mereka sebelum tes dimulai, dan juga seberapa besar menyukai musik yang didengarkan.

Tim peneliti menemukan bahwa suasana hati siswa sebelum mengerjakan tugas tampaknya tidak membuat perbedaan dalam kreativitas. Seberapa besar mereka menyukai musik atau betapa akrabnya mereka dengan musik yang didengar, juga tak berpengaruh pada tingkat kreativitas.

Namun, mendengarkan "musik bahagia" saat bekerja dapat memicu pemikiran berbeda yang terkait dengan kreativitas dan pemecahan masalah. Dengan kata lain, beragam jenis musik tidak akan membuat perbedaan yang signifikan pada tes kreativitas, kecuali saat peserta mendengarkan musik bahagia.

Segala jenis musik bahagia dinilai mampu mendorong kreativitas, namun musik bahagia berjenis klasik lah yang dinilai peneliti berperingkat paling tinggi untuk menghasilkan kinerja positif dan energik, salah satunya musik yang disusun oleh Antonio Vivaldi, dinilai paling mungkin mendorong pemikiran kreatif.

Walau begitu, faktor-faktor seperti jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan status sosial ekonomi dapat mempengaruhi bagaimana musik mempengaruhi pemikiran kreatif. Penelitian selanjutnya dinilai perlu menyelidiki lebih jauh bagaimana keakraban dan kenikmatan dalam mendengarkan musik dapat mempengaruhi kreativitas seseorang.

“Mendengarkan musik untuk kreativitas serupa dengan minum obat untuk depresi. Obat dapat mengatur nada di otak Anda untuk melakukan kinerja yang lebih baik. Demikian pula, mendengarkan musik bahagia mungkin tidak spontan membuat Anda lebih kreatif, tapi bisa membantu Anda menemukan kreativitas dengan lebih mudah,” kata Rex Jung dari University of New Mexico, yang tidak terlibat dalam penelitian.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.