Pernikahan Anak di Perkotaan Tetap Terjadi, Mengapa?

Kompas.com - 27/09/2017, 18:39 WIB
Ilustrasi pernikahan dini. UnicefIlustrasi pernikahan dini.
|
EditorWisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernikahan anak bukan hanya terjadi di pedesaan, melainkan juga di perkotaan, yang penduduknya biasanya berpendidikan lebih tinggi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) angka pernikahan anak di perkotaan mencapai 17,09 persen, sedangkan di pedesaan sebesar 27, 11 persen.

Tak pelak ini menjadi masalah baru, karena di satu sisi penekanan penyelesaian masalah ini dilakukan di pedesaan, sementara sisi perkotaan terabaikan. Mengapa pernikahan anak di perkotaan masih terjadi?

Child Protection and Participation Program Manager Plan Indonesia, Amrullah, mengatakan terdapat beragam penyebab pernikahan anak di perkotaan, mulai dari perilaku berisiko hingga normal sosial dan kepercayaan yang beragam.

Pada perilaku yang berisiko, kata Amrullah, akarnya adalah pola asuh orangtua yang hilang. Orangtua terlalu sibuk pada urusan pekerjaan dan membiarkan anak masuk pada aktivitas yang berisiko seperti pergaulan bebas.

"Contoh anak-anak sudah berani meninggalkan rumah dan hidup di luar, di jalan," kata Amrullah saat diskusi tentang pernikahan anak yang digelar Plan Internasional di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (27/9/2017).

Tambahan lagi teknologi yang kian canggih memberikan anak akses terhadap hal-hal yang sebetulnya belum mereka perlukan. Misalnya akses terhadap kontrasepsi yang kian mudah dengan layanan online tanpa harus datang ke penjual. Hal ini tak lepas dari kurangnya pendidikan terhadap remaja dari orangtua yang akhirnya membuka celah menikah dalam usia anak.

Faktor lain yang ikut andil adalah norma dan nilai yang dibawa dari desa ke kota. Sudah diakui bila perkotaan terdiri dari beragam suku dan budaya yang memiliki norma dan nilai sendiri. "Kita enggak bisa kontrol migrasi, yang akhirnya mereka dari daerah membawa norma dan nilai ke kota kemudian menikah," katanya.

Untuk mengentaskan persoalan tersebut, Amrullah mengakui tak bisa menggunakan cara seperti di pedesaan yang membentuk kelompok perlindungan anak desa (KPAD). Sebab karakteristik desa dan kota berbeda, terutama soal norma dan nilai yang beragam di perkotaan.

Karena itu, dia memilih untuk masuk lewat anak-anak muda yang memang sudah melek  teknologi. Remaja di perkotaan dinilai memiliki ciri khas ingin praktis dan mendapat konseling langsung dari ahli.

"Nah bisa dengan membuat layanan konsultasi langsung secara pribadi lewat whatsapp misalnya," katanya.

Selain itu, perlu sebuah usaha lain yang bisa mendorong ketahanan keluarga. Sebab, indikator ini memiliki peran penting agar anak mendapatkan informasi serta role model yang baik, sehingga dapat menurunkan angka pernikahan anak di perkotaan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X