Kompas.com - 28/09/2017, 14:22 WIB
|
EditorWisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemakaian kontrasepsi pada perempuan seringkali diabaikan karena alasan tertentu, mulai dari rasa takut sakit, takut menjadi gemuk, hingga pendarahan--yang sebenarnya bisa dibilang sebagai mitos.

Bila ketakutan istri muncul, apa yang harus dilakukan suami? Berikut tips dari dr Tirsa Verani SpOG.

1. Jangan ikut takut

Ketakutan memakai kontrasepsi pada perempuan umum terjadi. Apalagi pada waktu pasca-melahirkan. Misalnya, metode KB intrauterine device (IUD) atau spiral sering dianggap menimbulkan rasa sakit dan risiko lain. Padahal, metode tersebut sudah diakui efektivitas pencegahan kehamilan.

Umumnya suami, kata Tirsa, juga malah merasa takut dan menyarankan istri agar tidak mengambil metode KB. "Kalau punya pengetahuan lebih banyak, jelasin dulu (benefit KB), tapi disarankan ke petugas kesehatan. Bisa ke bidan, dokter umum datau kandungan," kata Tirsa kepada Kompas Lifestyle, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Cara itu lebih baik dibanding mendengarkan orang lain seperti tetangga atau teman yang tidak memiliki kompetensi soal KB. Selain itu, bila sudah memutuskan ke dokter, maka bisa dikumpulkan lebih dulu pertanyaan-pertanyaan seputar kontrasepsi tersebut.

"Tanyain semua. Jangan sampai baru balik dari dokter malah enggak dapat informasi yang tepat karena tidak bertanya menyeluruh," ujar Tirsa.

2. Direncanakan 

Tirsa juga menyarankan agar pemasangan kontrasepsi perempuan dibicarakan lebih awal, yakni saat masa kehamilan. Pembicaraan itu sekaligus sebagai persiapan pemasangan KB setelah melahirkan. "Sekarang kan sudah ada KB habis lahiran sudah bisa langsung dipasang," katanya.

3. Paham soal jarak kehamilan

Nah, sebagai suami, pria juga harus paham betul kapan jarak terbagus masa kehamilan antar anak. Menurut Tirsa, jarak ideal adalah empat hingga lima tahun. Hal ini harus dipahami sehingga ketika istri menginginkan KB tidak dihalang-halangi.

"Kalau istri takut, jangan bilang enggak usah atau sekalian capek," katanya.

Penting untuk dipahami, kehamilan yang direncanakan berdampak pada kehidupan rumah tangga dan pertumbuhan anak yang baik. Oleh karena itu, menunda kehamilan selama empat hingga lima tahun adalah hal bijak yang seharusnya dipahami suami.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.