Kompas.com - 01/10/2017, 08:55 WIB
Ilustrasi KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIAIlustrasi
EditorLusia Kus Anna

Oleh Vina Oktavia/Abdullah Fikri Ashri

Senja perlahan turun saat ratusan orang berkumpul di Hotel Novotel, Bandar Lampung, Jumat (29/9). Aroma kopi yang dibawa petani dan pelaku usaha merebak meski hujan mengguyur. Suasana Hari Kopi Internasional itu terasa romantis.

Dari Singapura, Robert Holthausen jauh-jauh ke Lampung hanya untuk merasakan aneka kopi robusta dalam acara tersebut. Direktur Komersial CWT Commodities Pte, sebuah perusahaan logistik internasional, ini menyesap satu per satu kopi robusta yang disajikan.

"Hmmm, kopi lampung memang nikmat. Rasanya pas," ujar Robert yang mulai minum kopi sejak belasan tahun lalu di Belanda. Kopi di "Negeri Kincir Angin" , menurut dia, merupakan campuran antara arabika dan robusta. Jadi, robusta lampung yang pekat lebih terasa.

Kedatangannya tak hanya untuk merasakan kopi, tetapi juga berjumpa dengan koleganya. Enam tahun lalu, ia tinggal sementara di Lampung. "Saya senang sekali bisa ketemu teman lama sambil minum kopi," ucap Robert yang tidak fasih bahasa Indonesia.

Di balik jabat tangan dan sesapan kopi, Robert juga mengutarakan rencana perusahaannya membangun sebuah gudang penyimpanan kopi di Bandar Lampung. Gudang dengan kapasitas hingga 2.500 ton itu, menurut rencana, dioperasikan tahun depan. Para eksportir kopi di Lampung jadi target.

Ini kali pertama perusahaan logistik itu "bermain" kopi. Mengapa Lampung? "Kopi robustanya banyak. Simple," ucap Robert yang berpakaian batik.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lampung memang dikenal sebagai salah satu sentra kopi robusta di Tanah Air. Kopi jenis ini umumnya tumbuh di dataran rendah dan paling tinggi pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sementara kopi arabika umumnya tumbuh di atas itu. Kopi robusta juga lebih tahan serangan hama.

Tidak hanya Robert yang tertarik pada Lampung demi kopi. Sejumlah pembeli dari Swiss dan Perancis juga datang. Pemprov Lampung bahkan mengundang 20 perwakilan duta besar negara lain, seperti Vietnam, Etiopia, dan Kolombia.

Ajang ini pun disambut meriah pelaku usaha kopi lokal. Jemi Rikaldo, pengusaha kopi robusta lampung dengan merek dagang Jim's Coffee, menuturkan, sebelum acara pembukaan dia telah meraup omzet sekitar Rp 3.000.000. Jemi optimistis menjaring pembeli baru dari sejumlah daerah dalam pameran tersebut. "Target saya bisa mendapat kontrak dengan paling sedikit lima negara," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X